
Peringatan Hari Kartini di RSUD Kertosono
NGANJUK, JAVATIMES — Pagi itu, nuansa berbeda terasa di RSUD Kertosono. Balutan kebaya dan kain tradisional menghiasi lorong-lorong rumah sakit. Namun di balik keanggunan itu, denyut kesibukan tak pernah berhenti. Pelayanan kesehatan tetap berjalan, bahkan dengan ketelitian dan tanggung jawab yang sama seperti hari-hari biasa.
Peringatan Hari Kartini 2026 di RSUD Kertosono bukan sekadar seremoni simbolik. Ia hadir sebagai refleksi nyata tentang peran perempuan yang tak tergantikan dalam dunia kesehatan, peran yang sering kali sunyi, namun berdampak besar.
Di ruang pemeriksaan, tenaga medis perempuan tetap sigap melayani pasien. Dengan tangan terampil dan perhatian penuh, mereka memastikan setiap keluhan ditangani secara profesional. Kebaya yang dikenakan tak menjadi penghalang, justru menjadi simbol bahwa keanggunan bisa berjalan beriringan dengan ketangguhan.
Beranjak ke Instalasi Farmasi, ritme kerja tak kalah dinamis. Para petugas dengan cekatan menata obat dan memastikan ketersediaannya tetap aman. Kesalahan sekecil apa pun bisa berakibat fatal, sehingga ketelitian menjadi harga mati.
Sementara itu, di Instalasi Laboratorium, para analis kesehatan perempuan bekerja dalam keheningan yang penuh konsentrasi. Setiap sampel diperiksa dengan cermat, karena di sanalah awal dari penegakan diagnosis yang menentukan arah pengobatan pasien.
Di bagian depan, wajah-wajah ramah menyambut setiap pasien yang datang. Senyum dan sapaan hangat dari petugas pendaftaran menjadi pintu pertama pelayanan yang humanis, sebuah sentuhan sederhana yang sering kali memberi ketenangan bagi mereka yang sedang cemas.
Direktur RSUD Kertosono menegaskan bahwa peringatan Hari Kartini bukan hanya tentang mengenang sejarah, melainkan menghidupkan kembali semangat perjuangan perempuan dalam konteks masa kini.
“Hari Kartini menjadi momentum bagi kami untuk terus menguatkan peran perempuan dalam pelayanan kesehatan. Mereka bukan hanya tenaga pendukung, tetapi garda terdepan yang menghadirkan layanan berkualitas, profesional, dan penuh empati,” ujarnya.
Lebih dari sekadar rutinitas, dedikasi para perempuan di RSUD Kertosono adalah cerminan nilai-nilai Kartini yang terus hidup. Mereka hadir bukan hanya sebagai pekerja, tetapi sebagai penggerak kemanusiaan, mengabdi tanpa lelah, bahkan dalam tekanan dan risiko.
Di tengah tuntutan pekerjaan yang tinggi, mereka tetap berdiri tegak. Membuktikan bahwa semangat Kartini tidak pernah pudar, melainkan terus bertransformasi, hidup di setiap langkah perempuan yang bekerja dengan hati.
Karena pada akhirnya, di balik setiap layanan kesehatan yang optimal, selalu ada sosok perempuan tangguh yang memilih untuk tetap peduli, tetap kuat, dan tetap mengabdi.
(AWA)

Komentar