JOMBANG – Saat kualitas layanan di poli-poli vital dikabarkan kian merosot, sebuah drama di balik layar manajemen RSUD Jombang justru mempertontonkan bagi-bagi kursi kekuasaan. Bukan lagi soal dedikasi, penempatan jabatan di lingkungan rumah sakit kini diduga kuat didikte oleh kedekatan darah dan relasi "orang dalam". Fenomena ini memicu alarm bahaya: ketika profesionalisme didepak, keselamatan pasien menjadi taruhannya.
Arsitektur Dinasti: Anak dan Kolega di Posisi "Basah"
Seorang sumber internal yang meminta identitasnya dirahasiakan demi keamanan posisi dan keselamatannya, membeberkan fakta mengejutkan mengenai kondisi di dalam "benteng" RSUD Jombang. Menurutnya, aroma nepotisme bukan lagi sekadar isapan jempol, melainkan sudah menjadi sistem yang terstruktur.
Praktik dinasti ini tampak nyata lewat penempatan figur-figur yang memiliki kedekatan darah dengan pimpinan tertinggi. Inisial F, putra kandung Direktur, kini menduduki posisi strategis yang memicu pertanyaan besar terkait objektivitas rekrutmen. Tidak berhenti di situ, sosok N, yang juga putri kandung Direktur, disinyalir memegang kendali penuh di sektor paling krusial dan rawan: Pengadaan Barang dan Jasa (PBJ).
Lebih lanjut, sumber tersebut mengungkapkan bahwa jaring-jaring kekuasaan ini semakin meluas dengan hadirnya Rofiul Amin (eks DPPKB-P3A) sebagai Kepala Bidang Penunjang Medik dan Non-Medik. Sebagai orang kepercayaan dr. Puji Umbaran, posisi Rofiul diduga menjadi "karpet merah" bagi istrinya, Dwi Estu Wulyani, untuk melenggang menjadi Kepala Paviliun Drupadi melalui proses yang dituding sebagai promosi "karbitan".
Fenomena "Manusia Super": Matinya Check and Balance
Manajemen RSUD Jombang juga disorot tajam terkait fenomena rangkap jabatan yang tidak masuk akal. Sosok berinisial HD muncul sebagai "Manusia Super" dengan menggenggam empat jabatan vital sekaligus:
-Kepala Rekam Medik
-Plt. Evaluasi dan Pelaporan
-Waka Instalasi Pemberkasan & Klaim (IPKJK)
-Plt. Perencanaan
"Ini gila, bagaimana mungkin fungsi kontrol internal bisa berjalan jika semua pintu dikunci oleh satu orang yang sama?" ujar sumber tersebut dengan nada getir. Akibatnya, fungsi check and balance lumpuh total. Logikanya, bagaimana mungkin evaluasi dan perencanaan bisa berjalan jujur jika "wasit, pemain, dan pencatat skor" berada di bawah kendali satu telunjuk yang sama?
"Genosida" Tenaga Ahli dan Runtuhnya Layanan
Dampak dari syahwat kekuasaan ini sangat nyata dan menyakitkan bagi para pejuang kesehatan yang jujur. Sedikitnya 10 tenaga ahli berpengalaman dikabarkan telah didepak secara perlahan namun pasti, hanya demi memberi ruang bagi barisan "orang titipan".
Kompensasi dari kebijakan ini adalah degradasi layanan yang sistemik. Laporan dari lapangan menyebutkan kualitas di Poli Rawat Jalan, VCT, hingga Poli Jiwa merosot tajam. Para petugas baru yang menggantikan para ahli tersebut dituding lebih piawai dalam urusan "menjilat" atasan ketimbang memberikan empati dan pelayanan medis yang prima kepada pasien.
Menanti Nyali Elit Birokrasi
Praktik "tukar guling" jabatan ini telah menciptakan preseden buruk bagi birokrasi di Jombang. Jika para elit birokrasi tetap memilih bungkam dan menutup mata, maka RSUD Jombang dalam waktu dekat bukan lagi menjadi tempat penyembuhan bagi rakyat, melainkan sekadar ladang pemuasan ambisi segelintir orang.
Kini publik menanti: apakah keadilan akan ditegakkan, ataukah "kerajaan keluarga" ini akan dibiarkan terus berdiri di atas penderitaan pasien?
(Gading)

Komentar