Menggugat ‘Kerajaan’ Pudji Umbaran,Dokumen Bocor: Blueprint Penjarahan Integritas di RSUD Jombang -->

Javatimes

Menggugat ‘Kerajaan’ Pudji Umbaran,Dokumen Bocor: Blueprint Penjarahan Integritas di RSUD Jombang

javatimesonline
19 April 2026

JOMBANG, JAVATIMES – Sebuah dokumen administratif yang bocor ke publik baru-baru ini bukan sekadar tumpukan kertas biasa. Daftar 31 nama staf yang dimutasi adalah cetak biru penguasaan absolut. Ini bukan rotasi organisasi, melainkan upaya Dr. Pudji Umbaran membangun benteng kekuasaan di atas fondasi nepotisme. Ketika pos-pos "basah"—mulai dari pengadaan barang hingga klaim keuangan—dijaga oleh lingkaran inti, RSUD Jombang bukan lagi milik rakyat, melainkan menjadi "properti pribadi".


1. Dinasti Berbalut SK: Karpet Merah untuk Sang Putra Mahkota

Publik patut bertanya: Sejak kapan rumah sakit yang dibiayai pajak rakyat berubah menjadi perusahaan keluarga?


Inisial F & N: Dua nama ini adalah simbol eksklusivitas. Sang putra mahkota dan putri kandung diduga kuat telah membarikade sektor Pengadaan Barang dan Jasa (PBJ).


Promosi "Karbitan": Nama Dwi Estu Wulyani (No. 6 dalam dokumen) melenggang menjadi Kepala Paviliun Drupadi. Mengingat suaminya adalah sekutu dekat sang Direktur, narasi "kompetensi" terasa seperti bualan.


Dalam kamus kekuasaan Pudji Umbaran, tidak ada yang namanya kebetulan. Yang ada hanyalah distribusi "hadiah" untuk orang-orang terdekat.


2. Teater Komedi Hitam: "Manusia Super" Berinisial HD

Manajemen RSUD Jombang sedang mempertontonkan lelucon birokrasi yang paling kelam. Bagaimana mungkin satu orang berinisial HD sanggup menggenggam empat jabatan vital sekaligus?


-Kepala Rekam Medik

-Plt. Evaluasi

-Waka IPKJK

-Plt. Perencanaan


Ini bukan efisiensi; ini adalah pembunuhan kontrol silang. Ketika transparansi mati di tangan satu orang, risiko manipulasi data dan anggaran membentang luas tanpa pengawasan.


3. Mutasi atau Eksekusi Profesional?

Daftar 31 nama tersebut adalah drama penyingkiran tenaga ahli. Sedikitnya 10 profesional berpengalaman didepak, hanya untuk digantikan oleh barisan loyalis yang mungkin lebih piawai "menjilat" daripada melayani.


Dampaknya? Kualitas layanan di Poli Rawat Jalan, VCT, hingga Poli Jiwa kini berada di ujung tanduk. Pasien tidak lagi dipandang sebagai manusia yang butuh kesembuhan, melainkan sekadar angka statistik dalam birokrasi yang sedang sakit kronis.


4. Logistik dalam Cengkeraman: Ambulans untuk Siapa?

Penempatan Yosep Dedy Kristiawan (No. 16 dalam dokumen) sebagai Kepala Unit Ambulans mempertegas pola yang sama: Posisi strategis wajib dipegang oleh "orang kita". Ini bukan soal efektivitas medis, melainkan kontrol total atas kunci armada dan logistik rumah sakit.


Gurita yang Harus Dipangkas


RSUD Jombang kini berada di persimpangan jalan yang berbahaya. Apakah kita akan membiarkan institusi kesehatan ini menjadi ladang perburuan jabatan bagi segelintir elite?


Jika syahwat kekuasaan dibiarkan memangsa profesionalisme, maka yang dikubur bukan hanya integritas institusi, melainkan keselamatan warga Jombang. Keadilan harus segera ditegakkan, sebelum gurita nepotisme ini melumpuhkan seluruh sistem dan menyisakan kehancuran bagi pelayanan publik.


Lawan, atau biarkan institusi ini mati dalam pelukan dinasti!






(Gading)