Asa Khotijah Terhimpit Antrean Medis dan Senyapnya Perhatian Pemerintah Daerah -->

Javatimes

Asa Khotijah Terhimpit Antrean Medis dan Senyapnya Perhatian Pemerintah Daerah

javatimesonline
09 Oktober 2026

 

Asa Khotijah Terhimpit Antrean Medis dan Senyapnya Perhatian pemerintah Daerah

JOMBANG, JAVATIMES — Derita tak bertepi merundung keluarga Khotijah (52), warga Dusun Temon, Desa Temuwulan, Kecamatan Perak, Kabupaten Jombang. Di tengah gerogotan kanker serviks yang kian mengganas, perempuan paruh baya ini bersama keluarganya justru terjebak dalam sengkarut birokrasi medis yang lamban dan himpitan ekonomi yang mencekik.


Selama tiga bulan terakhir, Khotijah harus bertarung melawan rasa sakit membakar di bagian punggung dan perut. Daya tahan tubuhnya kian merosot tajam akibat mual dan muntah hebat yang selalu menolak tiap suapan makanan yang masuk.

"Sakit di punggung sama perut, kalau makan pasti langsung mual dan muntah," tutur Khotijah pasrah saat ditemui di kediamannya, RT 1/RW 2 Desa Temuwulan.


Terusir Ketidakpastian dan Antrean Tanpa Ujung

Demi menjemput kesembuhan, Khotijah dan suaminya, Yunus (56), menggantungkan asa pada kartu BPJS PBI (KIS). Selama dua bulan belakangan, rute memelas Jombang–Surabaya saban satu hingga dua minggu sekali terpaksa dilakoni demi mengakses rumah sakit rujukan utama.


Namun, ikhtiar panjang itu membentur dinding tebal ketidakpastian. Meski rangkaian tes diagnostik telah tuntas dan tim medis secara resmi merekomendasikan tindakan operasi segera, kepastian tanggal penanganan tak kunjung menggema.


Keluarga miskin ini hanya dipaksa menunggu dalam kegelapan rentang waktu satu hingga dua bulan ke depan—tanpa kejelasan nomor antrean, apalagi tanggal pasti pembedahan.

"Belum ada kepastian jadwal operasi. Baru disuruh menunggu satu sampai dua bulan lagi, dan tiap minggu atau dua minggu diminta kontrol ke Surabaya," ungkap Yunus dengan nada kecewa.


Ekonomi Lumpuh, Utang Menumpuk

Sengkarut layanan kesehatan ini berimbas fatal pada roda ekonomi keluarga. Yunus, yang selama ini mengadu nasib sebagai kuli bangunan dan buruh tani serabutan, terpaksa gulung tikar total dari mata pencahariannya demi mendampingi sang istri berobat ke luar kota.

"Sudah sekitar dua bulan saya tidak bekerja karena harus menunggui istri berobat," aku Yunus.


Dapur yang tak lagi mengepul serta membengkaknya biaya transportasi antar-kota memaksa Yunus mengambil jalan pintas yang menyakitkan: berutang ke tetangga dan kerabat dekat. Saban hari, tumpukan utang kian menggunung seiring belum jelasnya kapan derita pengobatan ini berakhir.


Ironi Negara yang Absen

Di tengah krisis kemanusiaan yang menimpa warganya, jangankan bantuan konkret, kehadiran fisik dari pihak berwenang pun nihil. Pemerintah Kabupaten Jombang hingga jajaran Puskesmas setempat disinyalir sama sekali belum pernah menginjakkan kaki untuk sekadar memantau kondisi kritis Khotijah.

"Tidak pernah," tegas Yunus singkat merespons tiadanya perhatian dari instansi kesehatan maupun pemerintah daerah.


Kini, di balik dinding rumah serba terbatas di Desa Temuwulan, keluarga Khotijah hanya bisa menyuarakan desakan agar pemangkasan birokrasi medis segera dilakukan. Kesembuhan Khotijah dan pemulihan martabat ekonomi keluarga kini bergantung penuh pada seberapa cepat nurani para pemangku kebijakan terketuk. 



(Gading)