Bukan Hanya Enam Figur, Peta Bursa Sekda Nganjuk Masih Menyimpan Kuda Hitam -->

Javatimes

Bukan Hanya Enam Figur, Peta Bursa Sekda Nganjuk Masih Menyimpan Kuda Hitam

javatimesonline
07 Oktober 2026
Ilustrasi 

NGANJUK, JAVATIMES - Bursa calon Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Nganjuk mulai menghangat. Enam nama pejabat eselon II sebelumnya telah menjadi sorotan karena dinilai memiliki rekam jejak, pengalaman birokrasi, serta modal kepemimpinan yang cukup kuat untuk mengisi posisi strategis tersebut.


Namun, peta persaingan belum tentu berhenti pada enam figur itu.


Sekda Nganjuk Nur Solekan dijadwalkan memasuki masa purna tugas pada 1 Januari 2027. Kekosongan jabatan tersebut nantinya membuka ruang bagi proses seleksi sesuai ketentuan yang berlaku.


Jika mekanisme yang digunakan adalah seleksi terbuka, maka bursa calon Sekda bisa jauh lebih dinamis. Tidak hanya pejabat yang selama ini ramai diperbincangkan, pejabat eselon II-b lainnya di lingkungan Pemkab Nganjuk, bahkan birokrat dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur maupun daerah lain, secara prinsip dapat memiliki peluang sepanjang memenuhi persyaratan yang ditetapkan.


Artinya, enam nama yang sebelumnya dipetakan belum tentu menjadi akhir dari cerita.


Justru dari lingkaran birokrasi yang selama ini tidak terlalu banyak disebut, bisa saja muncul figur kejutan.


Berikut pemetaan sejumlah pejabat di luar enam figur yang sebelumnya paling disorot:

1. Tiga Asisten Sekda, dari Ruang Koordinasi ke Bursa Sekda

Tiga Asisten Sekretaris Daerah (Setda) Nganjuk memiliki posisi yang cukup strategis. Mereka setiap hari bersentuhan dengan koordinasi lintas perangkat daerah dan dinamika pemerintahan daerah.


Pertama, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Tri Wahju Kuntjoro, S.Sos., M.M.

Pengalaman birokrasi lintas sektor menjadi salah satu modal yang dapat diperhitungkan. Bidang pemerintahan, hukum, kesejahteraan rakyat, hubungan dengan instansi vertikal hingga ketertiban masyarakat merupakan ruang kerja yang membutuhkan kemampuan koordinasi dan pengambilan keputusan.


Kedua, Asisten Perekonomian dan Pembangunan, Judi Ernanto, S.Pi., M.M.

Posisinya bersentuhan langsung dengan sektor strategis pembangunan daerah. Koordinasi bidang perekonomian, pembangunan, infrastruktur, ketahanan pangan hingga agenda pertumbuhan ekonomi menjadi bagian dari ruang kerjanya.


Ketiga, Asisten Administrasi Umum, Yanto, S.E., M.M.

Jika dua asisten lainnya banyak bersentuhan dengan urusan pemerintahan dan pembangunan, Yanto berada pada jantung administrasi internal Setda. Pengalaman di bidang manajemen kelembagaan, kepegawaian, administrasi hingga pengelolaan internal pemerintahan menjadi modal tersendiri.


Ketiganya memiliki satu keunggulan yang relatif sama, yakni sudah berada di dalam lingkar koordinasi Sekretariat Daerah.


Mereka memahami ritme kerja Setda, pola koordinasi antar-OPD serta dinamika birokrasi dari jarak yang sangat dekat.


Dalam konteks seleksi Sekda, pengalaman tersebut dapat menjadi nilai tambah. Meski demikian, posisi strategis semata tentu tidak otomatis membuat seseorang memenuhi seluruh persyaratan maupun menjadi kandidat.


2. Inspektur Daerah, Posisi Strategis yang Masih Menunggu Figur Definitif

Sektor pengawasan internal juga menarik dicermati. Untuk sementara, posisi Inspektur Daerah Kabupaten Nganjuk masih diisi oleh Pelaksana Tugas (Plt). Kondisi ini membuat belum muncul figur definitif dari unsur pengawasan internal yang dapat dipetakan secara spesifik dalam bursa Sekda.


Padahal, pengalaman di bidang pengawasan internal memiliki relevansi kuat dengan jabatan Sekda.


Sekda tidak hanya dituntut mampu menggerakkan roda administrasi pemerintahan, tetapi juga memastikan koordinasi, kepatuhan terhadap regulasi, efektivitas program dan tata kelola pemerintahan berjalan dengan baik.


Karena itu, figur dari rumpun pengawasan tetap menarik untuk dicermati apabila ke depan terdapat pejabat definitif yang memenuhi persyaratan.


3. Kepala OPD Teknis dan Keuangan

Bursa juga dapat berasal dari kepala organisasi perangkat daerah (OPD) yang selama ini memegang sektor teknis strategis.


Salah satunya Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Nganjuk, Onny Supriyono, S.T., M.M.


Namun, berdasarkan kondisi kepangkatan yang disebutkan dalam pemetaan ini, Onny saat ini masih berpangkat IV/a sehingga perlu dilihat kembali kesesuaiannya dengan persyaratan kepangkatan apabila hendak mengikuti seleksi terbuka Sekda.


Nama lain adalah Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Nganjuk, Dra. Dyah Puspita Rini, M.Si.


Pengalaman di sektor keuangan dan pengelolaan aset daerah tentu memiliki relevansi kuat dengan jabatan Sekda. Namun, faktor usia juga menjadi aspek yang perlu diperhitungkan dalam melihat peluangnya mengikuti seleksi terbuka, terutama apabila ketentuan batas usia peserta tetap menjadi persyaratan.


Sementara itu, Kepala Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Pertanahan, Mashudi Nurul Huda, S.STP., M.M., juga layak masuk dalam radar pemetaan.


Latar belakang pendidikan kedinasan serta pengalaman birokrasi dapat menjadi modal dalam memahami administrasi pemerintahan daerah, tata kelola birokrasi dan kepemimpinan organisasi.


Jabatannya di sektor perumahan, permukiman dan pertanahan juga menempatkannya pada ruang kerja yang bersentuhan dengan pembangunan fisik, pelayanan publik dan pengelolaan kebijakan daerah.


Namun sekali lagi, peluang tersebut tetap harus diuji melalui persyaratan administratif dan tahapan seleksi apabila yang bersangkutan benar-benar mendaftarkan diri.


4. Calon dari Luar Nganjuk, Kejutan yang Tak Bisa Diabaikan

Satu kemungkinan lain justru datang dari luar lingkar birokrasi Pemkab Nganjuk.


Apabila seleksi dilakukan secara terbuka, pejabat eselon II dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur maupun pemerintah kabupaten/kota lain yang memenuhi persyaratan dapat memiliki peluang untuk ikut bersaing.


Figur eksternal bahkan berpotensi menghadirkan dinamika berbeda. Mereka datang tanpa terlalu terikat dengan pola birokrasi lokal, sekaligus membawa pengalaman dari lingkungan pemerintahan lain.


Namun, apakah akan ada pejabat dari luar Nganjuk yang benar-benar masuk dalam bursa? Pertanyaan itu baru akan terjawab ketika proses seleksi resmi dibuka.


Pada akhirnya, perebutan kursi Sekda Nganjuk bukan semata soal siapa yang paling sering disebut atau siapa yang memiliki posisi paling strategis.


Rekam jejak, kepangkatan, usia, kompetensi, pengalaman manajerial, kemampuan koordinasi, integritas hingga hasil setiap tahapan seleksi akan menjadi faktor penting.


Karena itu, enam nama yang sebelumnya mencuat belum tentu menjadi satu-satunya pemain. Bisa saja ada figur dari lingkaran Asisten Setda. Bisa pula muncul dari OPD teknis. Atau bahkan justru datang dari luar Kabupaten Nganjuk.


Bursa Sekda Nganjuk masih panjang. Dan sebelum pintu seleksi benar-benar dibuka, satu hal masih mungkin terjadi: munculnya calon kejutan.



Penulis. Indriawan