![]() |
| Kisah inspirasi Arum (AI) |
NGANJUK, JAVATIMES – Setiap pagi, sebelum bel berbunyi di SDN 2 Pisang, Kecamatan Patianrowo, Sulistyaningrum telah bersiap menyambut murid-muridnya. Di balik senyum dan kesabarannya mengajar, tersimpan perjalanan panjang yang dibangun dari kerja keras, doa orang tua, dan tekad yang tak pernah surut.
Perempuan yang akrab disapa Arum itu tidak pernah menganggap profesi guru sebagai sekadar pekerjaan. Baginya, menjadi pendidik adalah panggilan hidup untuk menyalakan harapan, membentuk karakter, sekaligus membuka jalan masa depan bagi anak-anak.
Kini Arum dipercaya menjadi guru kelas IV di SDN 2 Pisang. Namun, posisi tersebut tidak diraihnya secara instan. Perjalanan itu dimulai jauh sebelum ia menyandang status Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), bahkan sejak masih menjadi mahasiswa.
Arum merupakan putri pertama dari dua bersaudara, pasangan Sulahmi dan Iswandi. Ia tumbuh di tengah keluarga sederhana yang menggantungkan hidup dari hasil bertani. Dari kedua orang tuanya, ia belajar arti kerja keras, kesabaran, kejujuran, serta semangat pantang menyerah.
Meski kini kedua orang tuanya telah berhenti bertani dan lebih banyak menghabiskan waktu merawat cucu, doa dan dukungan mereka tetap menjadi sumber kekuatan terbesar bagi Arum dalam menjalankan tugas sebagai pendidik.
Perjalanan pendidikannya dimulai di SDN 1 Pandantoyo, Kecamatan Kertosono pada 2003 hingga 2009. Setelah itu ia melanjutkan ke SMP Negeri 3 Kertosono pada 2009-2012, kemudian menempuh pendidikan di SMA Negeri 1 Patianrowo hingga lulus pada 2015.
Kecintaannya terhadap dunia pendidikan membawanya melanjutkan studi di Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris STKIP Jombang. Di bangku kuliah itulah cita-citanya menjadi seorang guru semakin mantap.
Kesempatan mengabdi datang lebih cepat dari yang dibayangkan. Pada 2018, saat masih berstatus mahasiswa, Arum mulai mengajar di SDN 2 Pisang. Pengalaman tersebut menjadi titik awal perjalanan panjangnya mendampingi anak-anak belajar, tumbuh, dan berani bermimpi.
Hari demi hari, ia terus menempa diri menjadi pendidik yang lebih baik. Berbagai tantangan dihadapi dengan kesabaran dan kemauan untuk terus belajar. Konsistensi itulah yang akhirnya berbuah manis ketika pada 2024 Arum resmi diangkat sebagai PPPK dan tetap dipercaya mengajar di sekolah yang telah menjadi tempat pengabdiannya sejak awal.
Bagi Arum, tugas seorang guru tidak berhenti pada mengajarkan membaca, menulis, atau berhitung. Guru juga memiliki tanggung jawab menanamkan nilai-nilai kebaikan, membentuk karakter, serta menumbuhkan rasa percaya diri agar setiap anak mampu menghadapi masa depannya.
Karena itu, ia selalu berusaha menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, memberi ruang bagi setiap siswa untuk berkembang, dan mendorong mereka agar berani bercita-cita setinggi mungkin. Menurutnya, setiap anak memiliki potensi yang akan tumbuh ketika mendapatkan perhatian, pendampingan, dan kesempatan yang tepat.
Perjalanan Sulistyaningrum menjadi bukti bahwa kesuksesan tidak selalu lahir dari kemudahan. Dari keluarga petani sederhana, ia berhasil mewujudkan cita-cita menjadi seorang guru melalui ketekunan, kerja keras, dan semangat mengabdi yang tidak pernah padam.
Kisah Arum juga menjadi pengingat bahwa pendidikan bukan sekadar proses mentransfer ilmu pengetahuan. Lebih dari itu, pendidikan adalah tentang menumbuhkan harapan, membangun karakter, dan mempersiapkan generasi yang kelak akan menentukan masa depan bangsa. Di ruang kelas sederhana itulah, Arum terus menanam benih-benih masa depan yang suatu hari nanti akan tumbuh menjadi mimpi-mimpi besar.
(AWA)

Komentar