Ada Syarat "Buku dll" dalam Pengambilan Ijazah, Penjelasan Wakasek SMAN 1 Gondang Berubah-ubah -->

Javatimes

Ada Syarat "Buku dll" dalam Pengambilan Ijazah, Penjelasan Wakasek SMAN 1 Gondang Berubah-ubah

javatimesonline
23 Juli 2026
Ilustrasi pernyataan Wakil Kepala SMAN 1 Gondang (AI)

NGANJUK, JAVATIMES – Polemik distribusi ijazah di SMA Negeri 1 Gondang, Kabupaten Nganjuk, memunculkan sejumlah pertanyaan setelah keterangan yang disampaikan pihak sekolah berubah-ubah saat dikonfirmasi.


Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas SMAN 1 Gondang, Yusuf, pada awalnya menyatakan ijazah lulusan belum dibagikan karena dokumen tersebut belum selesai dicetak.

"Karena ijazahnya belum jadi," ujarnya.


Namun, ketika ditanya kapan ijazah selesai dibuat, Yusuf memberikan jawaban berbeda. Ia menyebut ijazah baru selesai pada pekan lalu.

"Baru jadi minggu kemarin," katanya.


Pernyataan itu kemudian berlanjut ketika muncul pertanyaan apakah keterlambatan distribusi ijazah berkaitan dengan adanya tunggakan administrasi siswa. Yusuf membantah keras dugaan tersebut.

"Tidak ada, tidak ada (kaitannya dengan tunggakan). Rencana mau dibagikan jadwalnya Selasa dibagi per tiga kelas, Rabu, dan Kamis," jelasnya.


Meski demikian, penelusuran JAVATIMES menemukan adanya pesan dalam grup internal yang beranggotakan kepala sekolah dan jajaran wakil kepala sekolah. Dalam informasi mengenai pengambilan ijazah, tercantum syarat agar siswa menyelesaikan tanggungan buku disertai tambahan kata "dll" kepada petugas.


Saat dikonfirmasi mengenai syarat tersebut, Yusuf menegaskan bahwa yang dimaksud hanya pengembalian buku perpustakaan.

"Buku, buku, buku, buku perpus kan lebih dari satu pak," dalihnya.


Ketika ditanya makna kata "dll", Yusuf kembali memberikan penjelasan bahwa yang dimaksud tetap hanya buku dan berjanji akan merevisi redaksi pengumuman tersebut.

"Buku saja, ya nanti saya revisi berarti, kalau buku, ya buku saja," ucapnya.


Ia juga menegaskan selama ini tidak ada pungutan apa pun di SMAN 1 Gondang.

"Kalau di sini gratis, nggak ada SPP, ndak ada (biaya peningkatan mutu)," katanya.


Namun, keterangan Yusuf kembali berubah saat ditanya kapan sebenarnya ijazah selesai diproses. Padahal sebelumnya ia menyebut baru selesai pekan lalu, kali ini ia mengaku tidak mengetahui.

"Ijazah ini jadinya.... tak telfonkan kurikulumku, aku gak ngerti," ujarnya.


Yusuf kemudian menghubungi Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum melalui sambungan telepon. Dalam percakapan tersebut, Waka Kurikulum justru menyampaikan bahwa ijazah telah selesai sejak cukup lama.

"Wis suwi, aku lali dino opo," ujar Waka Kurikulum melalui sambungan telepon.


Setelah mendapat penjelasan itu, alasan keterlambatan pembagian kembali berubah. Yusuf mengatakan sekolah sengaja menunda distribusi agar siswa dapat mengambil seluruh dokumen akademik sekaligus, meliputi rapor, transkrip nilai, dan sertifikat Tes Kemampuan Akademik (TKA).

"Jadi gini, bukannya kita belum membagikan, tapi kita mempermudah anak-anak. Biar nanti ngambilnya sekali, itupun sudah ada semua, biar nanti gak bolak-balik," tuturnya.


Ia menambahkan pihak sekolah membutuhkan waktu untuk memastikan seluruh dokumen telah lengkap dan tidak terdapat kesalahan administrasi.

"Kalau masalah baru dibagi sekarang, ya intinya kita menata tidak satu anak. Kita menata kurang lebih 300 orang dan itu kelengkapannya kami cek juga. Dan itu pun kalau ada kecacatan, ada kekurangan, itu biar anak pulang tanpa penyesalan," imbuhnya.


Namun, hasil penelusuran JAVATIMES menunjukkan fakta berbeda. Salinan ijazah dan transkrip nilai yang diperoleh media ini sama-sama telah ditandatangani pada 16 Mei 2026, atau sekitar dua bulan sebelum rencana pembagian kepada siswa.


Fakta lain juga muncul saat Yusuf mengakui bahwa sertifikat TKA yang sebelumnya dijadikan alasan penundaan ternyata telah diserahkan secara simbolis kepada siswa saat acara pelepasan.

"Oh iya simbolis ya, aku lali ya Allah. TKA itu sudah jadi, kemarin untuk simbolik pelepasan, karena ketika pelepasan tidak boleh menggunakan toga dan topi wisuda, akhirnya kita ganti dengan sertifikat TKA," akunya.


Dengan demikian, penjelasan mengenai alasan menunggu sertifikat TKA juga memunculkan pertanyaan, mengingat dokumen tersebut telah tersedia sejak acara pelepasan siswa.


Di akhir wawancara, Yusuf sempat melontarkan pernyataan yang kembali menjadi sorotan.

"Sekarang sekolah saya gratis bisa pak, sekolah yang lain bayar juga bisa," ucapnya.


Saat diminta menjelaskan sekolah mana yang dimaksud, Yusuf memilih menarik kembali ucapannya dan menyampaikan permintaan maaf.

"Maaf, maaf, saya selaku pendidik tak tata lagi," katanya.


Rangkaian penjelasan yang berubah-ubah, mulai dari alasan ijazah disebut belum selesai, kemudian dinyatakan baru jadi pekan lalu, lalu diakui telah selesai sejak lama, hingga alasan penundaan karena menunggu dokumen lain yang ternyata juga telah tersedia, menjadi perhatian publik. Di sisi lain, keberadaan syarat bertuliskan "buku dll" dalam informasi pengambilan ijazah juga memunculkan pertanyaan mengenai maksud sebenarnya dari redaksi tersebut, meski pihak sekolah menyatakan akan merevisinya dan menegaskan tidak ada kaitan antara pengambilan ijazah dengan penyelesaian kewajiban administrasi siswa.



(AWA)