Panggung Kelulusan di Nganjuk dan Orang Tua yang Diam-Diam Berutang -->

Javatimes

Panggung Kelulusan di Nganjuk dan Orang Tua yang Diam-Diam Berutang

javatimesonline
02 Juni 2026
Ilustrasi kelulusan siswa dan beban orang tua murid (AI)

OPINI -- Musik berdentum. Lampu panggung menyala. Anak-anak berdiri rapi dengan gaun dan jas yang nyaris menyerupai pesta pernikahan. Kamera berkelip, dekorasi megah dipasang, dan pendopo maupun gedung sewaan berubah menjadi arena perayaan.


Di atas panggung, yang terlihat memang kebahagiaan. Namun di balik kursi tamu, ada cerita yang jarang diumumkan dalam susunan acara.


Ada orang tua yang sejak pagi sibuk memikirkan cicilan. Ada yang berputar mencari tempat penyewaan gaun karena konsep kelas sudah ditentukan. Ada yang menimbang antara menjaga gengsi anak atau menjaga isi dompet keluarga. Bahkan, tak sedikit yang terpaksa meminjam uang agar putra-putrinya tetap bisa tampil setara dengan teman-temannya.


Ironisnya, semua itu terjadi dalam kegiatan pelepasan siswa sekolah negeri.


Fenomena pelepasan siswa yang digelar mewah kini seperti wabah sosial yang menyebar tanpa rem. Tidak semua sekolah memang demikian. Masih ada sekolah yang memilih jalan sederhana. Di mana mereka memilih melaksanakan pelepasan siswa di halaman sekolah, penuh kreativitas, hangat, dan tanpa membuat wali murid pulang membawa beban baru.


Namun fakta lain juga tak bisa ditutup-tutupi. Ada sekolah yang justru berlomba memoles perpisahan menjadi pertunjukan megah. Gedung di luar sekolah dipilih. Tata panggung dibuat mewah. Dress code disusun sedemikian rupa. Photobooth, make up, hingga konsep seragam kelas menjadi paket tak tertulis yang perlahan berubah dari pilihan menjadi tekanan sosial.


Pertanyaannya, untuk siapa semua kemegahan itu? Apakah untuk siswa? Ataukah untuk citra sekolah yang ingin terlihat bergengsi?


Di Kabupaten Nganjuk, pertanyaan itu menjadi semakin relevan. Sebab sekolah negeri berdiri di atas realitas masyarakat yang ekonominya beragam. Ada orang tua yang mungkin mampu membayar tanpa berpikir panjang. Namun ada pula buruh, petani, pedagang kecil, dan pekerja harian yang harus menghitung rupiah demi rupiah untuk kebutuhan rumah tangga.


Di titik inilah sekolah seharusnya hadir sebagai ruang pendidikan yang memahami kenyataan sosial, bukan justru menjadi panggung yang memperlebar jarak kemampuan ekonomi.


Kita perlu jujur mengakui bahwa pelepasan siswa yang berlebihan kerap menghadirkan tekanan yang halus namun nyata. Tidak ada paksaan tertulis, tetapi ada dorongan psikologis yang sulit ditolak.


Anak ingin sama seperti teman-temannya. Orang tua akhirnya merasa harus mengiyakan. Dan ketika “harus” itu datang, pilihan sering kali menghilang.


Padahal, setelah panggung dibongkar dan dekorasi diturunkan, kehidupan nyata segera menunggu para keluarga itu.


Siswa yang baru lulus SMP masih harus melangkah ke jenjang berikutnya. Mereka membutuhkan biaya untuk masuk SMA, MA, atau SMK. Seragam baru menanti dibeli. Buku dan perlengkapan sekolah harus dipersiapkan. Belum lagi ongkos transportasi dan kebutuhan pendidikan lain yang semakin mahal dari tahun ke tahun.


Di tengah kebutuhan sebesar itu, rasanya sulit memahami mengapa energi sekolah justru habis pada urusan kemasan seremoni.


Lebih ironis lagi, Kabupaten Nganjuk sebenarnya telah memiliki Surat Edaran Bupati yang menegaskan pelepasan siswa boleh dilaksanakan secara sederhana, kreatif, inovatif, dan tidak memberatkan orang tua.


Kalimat tidak memberatkan seharusnya cukup jelas.


Sayangnya, dalam praktik, batas antara sederhana dan mewah kerap menjadi kabur. Dan ketika kemewahan terus dibiarkan atas nama tradisi, permintaan siswa, atau alasan kebersamaan, sekolah sedang berjalan di wilayah yang patut dipertanyakan secara moral.


Sebab pendidikan tidak diukur dari mahalnya panggung. Karakter tidak dibangun dari warna gaun. Dan kenangan kelulusan tidak pernah ditentukan oleh seberapa megah gedung yang disewa.


Sekolah negeri semestinya menjadi tempat yang paling peka terhadap kondisi masyarakatnya sendiri. Ketika pelepasan siswa justru membuat sebagian orang tua repot mencari pinjaman, ada yang perlu dikoreksi, bukan dirayakan.


Pelepasan siswa sejatinya adalah momen syukur, bukan ajang demonstrasi status.


Karena pada akhirnya, yang akan diingat anak-anak bukan seberapa mewah dekorasi perpisahan mereka, melainkan apakah sekolah pernah mengajarkan empati dan kesederhanaan melalui teladan nyata.


Dan teladan itu dimulai dari keputusan paling sederhana, memilih untuk tidak membebani mereka yang sedang berjuang.



Andika Wahyu Al Amin, S.T.

Wakil Pimpinan Redaksi Javatimes