NGANJUK, JAVATIMES — Suasana hangat penuh kebersamaan menyelimuti kegiatan halal bihalal yang digelar bersama Badan Wakaf Indonesia (BWI) pada Selasa. Lebih dari sekadar tradisi pasca-Idulfitri, pertemuan ini menjadi ruang strategis untuk memperkuat kolaborasi dalam pengelolaan dan pemanfaatan aset wakaf.
Digelar di Kabupaten Nganjuk, kegiatan ini menghadirkan para pemangku kepentingan yang memiliki peran penting dalam tata kelola wakaf. Selain saling bermaafan, forum ini diisi dengan diskusi substantif mengenai arah pengelolaan wakaf yang lebih transparan, produktif, dan berkelanjutan.
Wakaf, yang selama ini identik dengan aset pasif, kini didorong menjadi instrumen ekonomi sosial yang aktif dan berdampak. Dalam diskusi, mengemuka pentingnya penguatan tata kelola—mulai dari aspek legalitas, manajemen aset, hingga strategi pemanfaatan agar nilai wakaf tidak hanya terjaga, tetapi juga berkembang.
Momentum halal bihalal ini juga dimanfaatkan untuk menyamakan persepsi antar lembaga. Sinkronisasi menjadi kunci agar pengelolaan wakaf tidak berjalan parsial, melainkan terintegrasi dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat secara lebih luas.
Meski berlangsung dalam nuansa kekeluargaan, komitmen yang dibangun bersifat serius: memperkuat profesionalisme, meningkatkan akuntabilitas, dan memperluas dampak sosial wakaf.
Dengan sinergi yang semakin solid, wakaf diharapkan tidak lagi dipandang sebagai aset statis, melainkan sebagai motor penggerak pembangunan sosial yang mampu mendorong kesejahteraan dan memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat.
Sumber : Kantah Nganjuk

Komentar