![]() |
| Sate Ayam dan Kambing Bu Latifah |
NGANJUK, JAVATIMES — Asap tipis dari bara arang mulai mengepul sejak pagi di Dusun Nanggungan, Desa Watudandang, Kecamatan Prambon, Kabupaten Nganjuk. Aroma khas daging kambing yang dibakar perlahan bercampur bumbu rempah seolah menjadi penanda bahwa warung sate milik Bu Latifah kembali buka melayani pelanggan.
Di tempat sederhana itulah, Bu Latifah menekuni usaha sate kambing dan ayam sejak tahun 2001. Usaha yang lahir bukan dari modal besar ataupun warisan usaha turun-temurun, melainkan dari tekad seorang perempuan yang ingin membantu ekonomi keluarga setelah menikah.
Lebih dari dua puluh tahun berlalu, bara tungku itu masih menyala.
Setiap hari, Bu Latifah mulai melayani pembeli sejak pukul 09.00 hingga 19.00 WIB. Menu andalannya adalah sate kambing dengan harga Rp30 ribu per porsi dan sate ayam Rp15 ribu per porsi. Selain melayani pembeli harian, usahanya juga menerima pesanan aqiqah yang kini semakin dikenal masyarakat sekitar.
Bagi pelanggan, rasa menjadi alasan utama mengapa mereka kembali datang. Daging kambing yang empuk, bumbu yang meresap, dan proses pembakaran menggunakan arang membuat cita rasa sate Bu Latifah memiliki ciri khas tersendiri.
Namun di balik lezatnya sajian itu, ada perjalanan panjang yang tidak mudah.
Merintis usaha kecil di desa tentu penuh tantangan. Mulai dari naik turunnya harga bahan baku, sepinya pembeli di masa-masa tertentu, hingga persaingan usaha kuliner yang terus bermunculan. Tetapi Bu Latifah memilih bertahan. Baginya, usaha bukan sekadar mencari keuntungan, melainkan perjuangan menjaga dapur keluarga tetap menyala.
“Dulu awal buka ya sederhana sekali. Saya dan suami pelan-pelan belajar mencari pelanggan. Yang penting jualan jujur, rasa dijaga, dan pembeli puas,” ujar Bu Latifah saat ditemui di warungnya.
Ia mengaku tidak pernah menyangka usaha kecil yang dirintis setelah menikah itu mampu bertahan hingga sekarang. Bahkan, pesanan aqiqah mulai berdatangan dari berbagai wilayah sekitar Prambon.
“Alhamdulillah sampai sekarang masih dipercaya pelanggan. Saya bersyukur karena dari usaha sate ini bisa membantu kebutuhan keluarga,” tuturnya.
Kesederhanaan justru menjadi kekuatan utama usahanya. Tanpa promosi besar-besaran, pelanggan datang dari mulut ke mulut. Banyak yang awalnya hanya mencoba, lalu menjadi langganan bertahun-tahun.
Di tengah menjamurnya kuliner modern dan makanan cepat saji, usaha sate tradisional seperti milik Bu Latifah menjadi bukti bahwa cita rasa rumahan masih memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat.
Bukan hanya soal makanan, tetapi juga tentang ketulusan pelayanan dan konsistensi menjaga kualitas.
Kini, setelah lebih dari dua dekade berdiri, warung sate Bu Latifah tidak sekadar menjadi tempat makan. Ia telah menjadi bagian dari cerita perjalanan hidup sebuah keluarga, tentang kerja keras, kesabaran, dan harapan yang dibakar perlahan di atas bara arang setiap harinya.
(AWA)

Komentar