Dari Dapur SPPG ke SMAN 1 Patianrowo: Ulat Hidup Masuk Ompreng MBG -->

Javatimes

Dari Dapur SPPG ke SMAN 1 Patianrowo: Ulat Hidup Masuk Ompreng MBG

javatimesonline
16 Januari 2026
Temuan ulat di salah satu makanan program MBG di SMAN 1 Patianrowo, Nganjuk

NGANJUK, JAVATIMES -- Program Makan Bergizi Gratis (MBG) digadang-gadang sebagai wajah kepedulian negara terhadap masa depan generasi muda. Namun di SMAN 1 Patianrowo, Nganjuk, Selasa siang (13/1/2026), wajah itu tercoreng oleh temuan yang seharusnya tak pernah hadir di meja makan siswa, yakni ulat hidup di dalam ompreng.


Hari itu, sebanyak 1.159 porsi MBG dibagikan, dengan rincian 1.126 untuk siswa dan 33 wali kelas. Menu terkesan ama, di antaranya kentang, telur rebus, tahu, sambal kacang, kubis, dan buah naga. Semua tampak biasa. Hingga sebuah laporan muncul dari salah satu kelas, disusul video berdurasi enam detik yang kemudian beredar luas.


Dalam rekaman tersebut, ulat terlihat berada di dalam ompreng, bergerak di sekitar makanan. Bukan di luar. Bukan menempel di tutup. Tapi di dalam wadah makanan yang siap santap.


Namun, fakta visual itu justru berhadapan dengan rangkaian pernyataan resmi yang terkesan saling mengecilkan persoalan.


Wakil Kepala SMAN 1 Patianrowo bidang Humas, Dani Indra Gunawan, menyebut temuan itu hanya terjadi di satu kelas, bahkan satu ompreng.

“Mungkin pas kebagian satu kelas itu yang sepertinya ada, sepertinya lho ya,” ujarnya, Kamis (15/1/2026).


Berapa jumlah ulatnya? Tak ada angka pasti. Tak ada pencatatan. Tak ada dokumentasi resmi.

“Wah, nggak ngitung. Saya nggak punya dokumentasinya, saya lihat dari anak-anak,” kata Dani.


Ulat itu, menurut informasi yang diterimanya, berada di samping tutup ompreng. Dugaan pun mengarah pada buah naga, ulat buah yang mungkin lolos saat pengirisan.


Masalahnya, video berkata lain. Dalam rekaman yang beredar, ulat jelas terlihat di dalam ompreng, bergerak di antara makanan. Sebuah detail yang mengubah narasi secara fundamental dari sekadar “menempel dari luar” menjadi indikasi lemahnya kontrol kebersihan makanan siap konsumsi.


Pihak sekolah mengaku baru mengetahui kejadian itu setelah makanan dibagikan. Laporan datang dari siswa melalui wali kelas. Konsumsi pun dihentikan namun terlambat.

“Anak-anak semuanya sudah ada yang terlanjur dimakan,” ujar Dani.


Satu kelas akhirnya tidak menyantap MBG hari itu, sementara ratusan ompreng lainnya tetap dikonsumsi tanpa pemeriksaan menyeluruh. Sekolah hanya melakukan pengecekan secara sampling, sebuah metode yang kini patut dipertanyakan untuk program nasional dengan dampak kesehatan massal.


Dari sisi dapur penyedia, SPPG Tirtobinangun Kecamatan Patianrowo, pengakuan disampaikan setengah hati. Kepala SPPG, Intan Ayu Fadillah, membenarkan adanya temuan ulat, namun menegaskan posisinya di luar ompreng dan menyebut kasus itu tidak berat.

“Hanya di satu ompreng saja dan tidak menimbulkan permasalahan yang cukup berat,” ujarnya melalui WhatsApp.


SPPG berdalih ulat tersebut berasal dari buah naga kupas dan menempel secara tak sengaja. Satu ompreng ditarik, diganti, dan distribusi tetap berjalan seperti biasa.


Pertanyaannya, jika benar hanya satu ompreng, mengapa video menunjukkan ulat berada di dalam wadah makanan? Jika pengawasan sudah dilakukan sebelum distribusi, bagaimana organisme hidup bisa lolos hingga ke tangan siswa?


Lebih jauh, kasus ini membuka persoalan yang lebih besar dari sekadar satu ulat, standar keamanan pangan dalam Program Makan Bergizi Gratis. Ketika kelalaian disebut sebagai “kemungkinan manusiawi”, publik justru melihatnya sebagai alarm keras.


Ironisnya, pernyataan paling jujur justru datang dari pihak sekolah sendiri.

“Ini untuk manusia,” kata Dani, sembari meminta agar kelalaian tak dijadikan alasan.


Kalimat singkat itu menampar keras. Karena MBG bukan sekadar urusan dapur, logistik, atau klarifikasi administratif. Ia adalah janji negara, dan janji itu kini diuji bukan oleh isu besar, melainkan oleh ulat kecil yang terekam kamera.


Satu ompreng mungkin bisa diganti. Tapi kepercayaan publik, ketika retak, tak semudah itu ditambal.



(AWA)