JOMBANG, JAVATIMES – Dinamika menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama yang dijadwalkan berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, kian mengkristal. Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng sekaligus Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, KH Abdul Hakim Mahfudz atau yang akrab disapa Gus Kikin, secara resmi menyatakan kesiapannya untuk berkhidmat dan maju sebagai calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Langkah Cicit Pendiri NU Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari ini dipandang banyak pihak bukan sekadar kontestasi figur biasa. Gus Kikin hadir membawa dua poros misi besar: restorasi ideologis melalui penerapan Qanun Asasi serta konsolidasi kekuatan ekonomi jamaah.
"Kalau pemilihan (Ketua Umum PBNU), kesiapan, sudah pasti siap," ujar Gus Kikin mantap saat ditemui di Ponpes Tebuireng, Jombang, Jumat (28/8/2026).
Restorasi Ideologis: Mengembalikan Khittah Melalui Qanun Asasi
Pilar pertama yang diusung Gus Kikin adalah pembumian kembali Qanun Asasi—prinsip dasar dan pandangan hidup organisasi yang dirumuskan langsung oleh Mbah Hasyim Asy'ari saat NU didirikan pada 1926. Menurutnya, Qanun Asasi memuat tuntunan teologis, etis, dan organisatoris yang membuat NU tetap kokoh sebagai gerakan keagamaan dan kemasyarakatan (jam'iyah diniyah ijtimaiyah).
Gus Kikin menilai, fondasi historis tersebut sempat terpinggirkan ketika NU terjun ke panggung politik praktis pada era 1950-an.
"Seyogyanya AD/ART awal NU tersebut memang digunakan sebagai pedoman. Ini yang ketika NU menjadi partai politik pada tahun 1952, kemudian ditinggalkan. Jika Qanun Asasi diterapkan kembali, NU akan kembali menjadi organisasi keagamaan yang murni dan kokoh seperti awal didirikan para muassis," tegasnya.
Pernyataan ini disambut positif oleh jajaran struktural di daerah. Langkah restorasi ini dinilai menjadi jawaban atas kerinduan warga Nahdliyin terhadap tegaknya kepemimpinan yang berakar kuat pada gagasan orisinal pendiri.
Konsolidasi Ekonomi: Mengubah Basis Warga Menjadi Surplus Kesejahteraan
Pilar kedua yang tidak kalah krusial adalah strategi penguatan ekonomi. Selama ini, potensi jumlah warga NU yang mencapai puluhan hingga ratusan juta jiwa kerap berhenti sebagai angka statistik. Di tangan Gus Kikin, potensi raksasa ini hendak ditata menjadi kekuatan ekonomi riil yang berkeadilan.
"Jumlah warga yang begitu besar itu pasar ekonomi yang nyata. Kalau ditata dengan manajemen yang baik, insyaAllah jadi satu nilai surplus bagi ekonomi jam'iyah (organisasi) dan jamaah (warga) NU," jelas Gus Kikin.
Kombinasi antara keteguhan ideologi dan visi kemandirian ekonomi ini menempatkan Gus Kikin sebagai kandidat dengan tawaran program yang konkret. Pendekatan ini menggabungkan nilai-nilai tradisi dengan kebutuhan modernisasi tata kelola organisasi.
Dukungan Grassroot dan Modal Sosial Konsensus
Pencalonan Gus Kikin mendapatkan dorongan kuat dari PWNU Jawa Timur serta gelombang dukungan dari berbagai Pengurus Cabang (PCNU) di daerah. Gaya kepemimpinannya yang terbuka dan konsisten menjaga silaturahmi menjadi modal sosial utama dalam merangkul berbagai elemen di tubuh NU.
"Ya Alhamdulillah. Ini karena saya terbiasa bersilaturahim dengan yang lain, dan kita menjalin hubungan dengan semuanya," tutur Gus Kikin.
Bursa calon Ketum PBNU pada Muktamar ke-35 NU kali ini diprediksi berlangsung hangat dengan hadirnya tokoh-tokoh nasional seperti KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), KH Yusuf Chudori (Gus Yusuf), dan KH Abdul Gaffar Rozin (Gus Rozin).
Di tengah jejaring kandidat tersebut, kehadiran Gus Kikin membawa warna tersendiri. Berbekal legitimasi nasab pendiri, rekam jejak memimpin PWNU Jatim dan Ponpes Tebuireng, serta tawaran program yang terukur, beliau menjadi salah satu figur pemersatu yang siap membawa PBNU menuju era baru.
(Gading)

Komentar