Makan Ikan Mujair Crispy dari Menu MBG, Siswa SMP di Lengkong Diduga Tersedak Duri -->

Javatimes

Makan Ikan Mujair Crispy dari Menu MBG, Siswa SMP di Lengkong Diduga Tersedak Duri

javatimesonline
23 Agustus 2026
Salah seorang penerima manfaat program MBG mengaku dibawa ke Rumah Sakit pasca menyantap menu MBG

NGANJUK, JAVATIMES – Sepiring Makan Bergizi Gratis (MBG) yang semestinya menjadi asupan bergizi bagi siswa justru berujung pada persoalan kesehatan. Seorang siswa SMP Satu Atap di Kecamatan Lengkong, Kabupaten Nganjuk, berinisial F, harus mendapatkan penanganan medis setelah mengeluhkan sakit pada tenggorokan usai menyantap menu MBG.


Peristiwa tersebut terjadi pada Kamis (20/8/2026). Saat itu, F menerima makanan MBG yang disuplai dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sumbersono.


Menu yang dibagikan pada hari tersebut cukup beragam. Dalam lembar menu yang dipublikasikan SPPG Sumbersono, paket MBG Kamis, 20 Agustus 2026, terdiri atas nasi, kering tempe, plecing, jeruk, sambal, serta ikan mujair crispy.


Ikan mujair crispy menjadi salah satu komponen utama dalam paket makanan tersebut. Ikan disajikan dalam balutan tepung dan digoreng hingga crispy. Di dalam kotak makanan, menu ikan tersebut tampak disertai sambal.


Dalam informasi nilai gizi yang tercantum pada lembar menu, paket tersebut juga dibedakan berdasarkan ukuran porsi. Porsi besar tercatat mengandung energi sekitar 585,1 kilokalori, protein 29,4 gram, lemak 11 gram, karbohidrat 93,6 gram dan serat 4,9 gram. Sementara porsi kecil tercatat mengandung energi sekitar 394,4 kilokalori, protein 25,1 gram, lemak 8,7 gram, karbohidrat 57 gram dan serat 4,1 gram.


Di atas kertas, susunan menu tersebut tampak memenuhi unsur makanan yang beragam. Namun, persoalan muncul ketika makanan tersebut disantap oleh salah satu penerima manfaat.


F mengaku awalnya makan seperti biasa. Ia menyantap makanan yang diberikan hingga sekitar setengah porsi. Namun, ketika mengonsumsi bagian ikan, tiba-tiba ia merasakan sesuatu tersangkut di tenggorokan.

"Saya makan biasa, nah terus saya itu makan bagian perut. Terus keleleken (keselek)," ungkap F saat dikonfirmasi awak media, Sabtu (22/8/2026).


Keluarga menduga benda yang membuat F tersedak tersebut merupakan duri ikan dari menu ikan mujair crispy yang disantapnya.


Setelah kejadian itu, persoalan tidak berhenti di meja makan. Kondisi F justru berlanjut hingga mengalami muntah dan demam.

"Nggih (muntah-muntah). Yang muntah saya sendiri," ucap F.


Pada Kamis malam, kondisi tubuh F disebut mulai panas. Keluarga sebenarnya ingin membawa F ke rumah sakit, tetapi persoalan biaya menjadi kendala.

"Itu Kamis malam hari, kondisi F panas. Saya mengajak ke rumah sakit, tapi saya bingung gak punya uang," beber salah seorang anggota keluarga.


Karena kondisi tak kunjung membaik, keluarga kemudian menghubungi pihak sekolah. Pada Jumat (21/8/2026), F akhirnya dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pemeriksaan.

"Dibawa ke Rumah Sakit kemarin (Jumat)," ungkap F.


F kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Kertosono. Namun, dari sana ia kembali dirujuk ke Rumah Sakit Nganjuk karena fasilitas atau peralatan yang dibutuhkan dinilai kurang memadai.

"Dirujuk ke Rumah Sakit Kertosono. Terus dirujuk lagi ke Rumah Sakit Nganjuk," kata keluarganya.


Menurut keluarga, terdapat informasi dari pemeriksaan medis bahwa amandel F mengalami pembengkakan.

"Katanya kemarin mandelnya bengkak," ungkapnya.


Meski telah mendapatkan penanganan medis dan diperbolehkan pulang, F mengaku rasa sakit pada tenggorokannya belum sepenuhnya hilang.

"Masih sakit," ucap F.


Kakek F, Abdul Manab, membenarkan kejadian tersebut. Ia mengatakan penyelenggara MBG bertanggung jawab atas kejadian tersebut.


Menurut keluarga, bentuk tanggung jawab yang diterima sejauh ini berupa pembiayaan pengobatan dan obat-obatan.

"Kemarin ya tanggung jawab sepenuhnya. Diobati," ungkapnya.


"Obat aja. Tidak (dikasih lain-lain)," lanjutnya.


Bagi keluarga, persoalannya bukan semata-mata mengenai biaya pengobatan. Ada pertanyaan yang jauh lebih mendasar, yakni bagaimana memastikan makanan yang dikonsumsi anak-anak benar-benar aman sebelum sampai ke tangan mereka.


Apalagi, menu yang dikonsumsi F merupakan ikan mujair crispy. Proses pengolahan ikan menjadi crispy memang dapat membuat tekstur ikan lebih renyah dan menarik bagi anak-anak, tetapi keberadaan duri tetap menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam proses persiapan dan pengolahan.


Keluarga berharap kejadian tersebut menjadi evaluasi agar makanan MBG yang diberikan kepada siswa tidak hanya memenuhi kebutuhan gizi, tetapi juga benar-benar aman ketika dikonsumsi.

"Diberi yang layak biar bisa dimakan anak-anak dengan nyaman," ungkap keluarga F.


Berdasarkan informasi yang diperoleh, menu MBG yang dikonsumsi F berasal dari SPPG Sumbersono. Lembar menu yang beredar juga mencantumkan SPPG Sumbersono sebagai penyedia menu pada Kamis (20/8/2026).


Awak media telah berupaya melakukan konfirmasi langsung ke lokasi SPPG Sumbersono. Namun, penanggung jawab tidak berada di tempat sehingga belum diperoleh penjelasan resmi mengenai kejadian tersebut.


Hingga berita ini ditulis, pihak SPPG Sumbersono juga belum memberikan keterangan mengenai kronologi kejadian, standar pemeriksaan ikan mujair sebelum dimasak dan didistribusikan, mekanisme pengecekan makanan, maupun evaluasi yang akan dilakukan.



(AWA)