
Bupati Nganjuk Marhaen Djumadi saat memotivasi mahasiswa baru UNESA
SURABAYA, JAVATIMES – Ada suasana berbeda ketika seorang alumni kembali ke kampusnya, bukan lagi sebagai mahasiswa yang duduk mendengarkan kuliah, melainkan sebagai seseorang yang datang membawa pengalaman perjalanan hidup.
Suasana itulah yang terasa ketika Bupati Nganjuk, Dr. Drs. H. Marhaen Djumadi, yang akrab disapa Kang Marhaen, hadir di tengah mahasiswa baru Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Rabu (19/8/2026).
Kali ini, langkahnya kembali memasuki lingkungan kampus bukan untuk mengikuti perkuliahan. Ia datang sebagai narasumber dalam rangkaian Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) UNESA, khususnya untuk memberikan motivasi kepada mahasiswa baru Fakultas Hukum.
Di hadapan generasi yang baru saja memulai perjalanan akademiknya, Kang Marhaen berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar kehidupan perkuliahan. Ia berbicara tentang masa depan.
Tentang dunia yang bergerak cepat. Tentang teknologi yang terus berkembang. Tentang kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang perlahan mengubah cara manusia bekerja. Dan tentang persaingan yang kelak tidak lagi mengenal batas daerah, bahkan batas negara.
Materi yang dibawakannya berjudul “Growth Mindset & Keberanian Bermimpi: Membangun Mentalitas Juang Mahasiswa Hukum di Era Kompetisi Global”.
Bagi mahasiswa baru, mungkin istilah growth mindset terdengar sebagai konsep sederhana. Namun, bagi Kang Marhaen, pola pikir tersebut justru menjadi salah satu bekal penting untuk memasuki dunia yang penuh perubahan.
Ia mengajak mahasiswa meninggalkan fixed mindset—pola pikir yang membuat seseorang merasa kemampuan dirinya sudah berhenti pada titik tertentu.
Sebab, dunia tidak pernah berhenti bergerak.
Apa yang hari ini dianggap sebagai keahlian unggulan, bukan tidak mungkin dalam beberapa tahun ke depan berubah atau bahkan tergantikan oleh teknologi. Karena itu, mahasiswa hukum tidak cukup hanya menjadi orang yang pandai menghafal teori, memahami pasal, atau mendapatkan nilai akademik tinggi.
Mereka harus mampu terus belajar. Harus berani bertanya. Harus terbiasa menganalisis persoalan. Dan yang tidak kalah penting, harus berani menghadapi kegagalan.
“Jangan pernah merasa kemampuan kita berhenti pada apa yang kita miliki hari ini. Dunia berubah, teknologi berubah, tantangan berubah. Maka kita juga harus terus belajar dan bertumbuh. Berani bermimpi besar, tetapi jangan lupa bahwa mimpi harus dibayar dengan kerja keras, ketekunan, dan keberanian untuk terus mencoba,” ujar Kang Marhaen.
Pesan tersebut terasa semakin relevan ketika ia membawa mahasiswa melihat masa depan profesi hukum.
Perkembangan AI, menurutnya, akan membawa perubahan besar dalam dunia hukum. Pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan waktu panjang untuk mencari dokumen, menyusun data, hingga melakukan kajian awal, perlahan dapat dibantu oleh teknologi.
Namun, justru di situlah tantangannya. Teknologi mungkin dapat membantu manusia menemukan data, menganalisis dokumen, bahkan menyusun argumentasi awal. Tetapi teknologi tidak boleh menggantikan nurani.
Di dunia hukum, keputusan dan perjuangan menyangkut nasib manusia. Ada keadilan yang harus diperjuangkan, ada kebenaran yang harus ditegakkan, dan ada nilai kemanusiaan yang tidak boleh hilang di tengah derasnya perkembangan teknologi.
Karena itu, Kang Marhaen meminta mahasiswa tidak hanya mengejar kecerdasan intelektual. Ia ingin mereka membangun karakter.
Menjadi pribadi yang tangguh ketika menghadapi tekanan, terbuka terhadap perubahan, tetapi tetap memiliki keberpihakan terhadap nilai-nilai kemanusiaan.
Menariknya, pesan itu disampaikan oleh seseorang yang pernah berada di posisi yang sama dengan mereka.
Kang Marhaen adalah alumni UNESA. Ia juga merupakan alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), organisasi yang menjadi bagian dari perjalanan intelektual dan pengabdiannya.
Kini, setelah perjalanan panjang membawanya menjadi Bupati Nganjuk, ia kembali ke kampus membawa pengalaman yang telah dilaluinya.
Dari seorang mahasiswa, kemudian menapaki perjalanan pengabdian hingga dipercaya memimpin sebuah daerah.
Kehadirannya seolah menjadi pengingat bahwa kampus bukanlah garis akhir. Kampus adalah tempat seseorang menyiapkan diri sebelum terjun menghadapi kehidupan yang sesungguhnya.
Karena itu, kepada mahasiswa baru Fakultas Hukum UNESA, Kang Marhaen tidak sekadar berbicara tentang bagaimana menjadi pintar.
Ia berbicara tentang bagaimana menjadi manusia yang terus tumbuh.
Ia mengajak mahasiswa tidak takut mempunyai mimpi besar. Sebab, menurutnya, masa depan sering kali dimulai dari sebuah keberanian sederhana: berani membayangkan sesuatu yang lebih besar daripada keadaan hari ini.
“Bukan yang paling pintar yang bertahan, melainkan yang paling cepat beradaptasi. Jadilah mahasiswa hukum yang bermental baja dan berhati nurani,” pesan Kang Marhaen.
Kalimat itu menjadi penutup yang sekaligus merangkum seluruh pesannya.
Bahwa mahasiswa hukum di era kompetisi global tidak cukup hanya memiliki kecerdasan. Mereka membutuhkan mentalitas juang, kemampuan beradaptasi, keberanian bermimpi, dan karakter yang kuat.
Sementara teknologi terus berlari, manusia harus memastikan dirinya tidak kehilangan arah. Dan bagi mahasiswa baru UNESA, perjalanan panjang itu baru saja dimulai.
Hari ini mereka mungkin masih mengenakan identitas sebagai mahasiswa baru. Namun dari ruang kampus inilah mimpi-mimpi besar bisa mulai disusun.
Kelak, sebagian dari mereka mungkin menjadi hakim, jaksa, advokat, akademisi, birokrat, pembuat kebijakan, atau pemimpin bangsa.
Kang Marhaen hanya menitipkan satu bekal, yakni jangan berhenti bertumbuh.
Sebab masa depan bukan milik mereka yang sekadar paling pintar, melainkan mereka yang berani belajar, berani berubah, dan tetap menjaga hati nurani ketika dunia terus berubah.
(AWA)

Komentar