Dari Kampus untuk Negeri, Kang Marhaen Dorong 16.300 Mahasiswa Unesa Menjadi Pemimpin Perubahan -->

Javatimes

Dari Kampus untuk Negeri, Kang Marhaen Dorong 16.300 Mahasiswa Unesa Menjadi Pemimpin Perubahan

javatimesonline
29 Juli 2026


Kang Marhaen saat memberikan pembekalan kepada ribuan mahasiswa UNESA 

SURABAYA, JAVATIMES – Ribuan mahasiswa memenuhi halaman Kampus II Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Lidah Wetan, Senin (27/7/2026). Semangat pengabdian begitu terasa. Bukan sekadar mengikuti seremoni pelepasan, sebanyak 16.300 mahasiswa bersiap meninggalkan ruang kelas untuk memasuki "laboratorium kehidupan" melalui Program Mahasiswa Berdampak Mobilitas Akademik Tahun Akademik 2026/2027.


Selama empat bulan ke depan, mereka akan menyatu dengan masyarakat, belajar dari realitas kehidupan, sekaligus menghadirkan solusi atas berbagai persoalan di desa, sekolah, dunia usaha, industri, hingga komunitas sosial. Program tersebut menjadi wujud transformasi pembelajaran yang tidak lagi berhenti pada teori, tetapi berorientasi pada dampak nyata bagi masyarakat.


Kick-off program tersebut dihadiri Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Fauzan, Rektor Unesa Prof. Dr. Nurhasan atau yang akrab disapa Cak Hasan, serta sejumlah kepala daerah mitra, termasuk Bupati Nganjuk Marhaen Djumadi yang juga menjabat sebagai Ketua Ikatan Alumni (IKA) Unesa.


Dalam kesempatan itu, Kang Marhaen tidak hanya hadir sebagai kepala daerah, tetapi juga sebagai alumni yang memberikan pembekalan motivasi kepada ribuan mahasiswa sebelum diterjunkan ke masyarakat.


Di hadapan para mahasiswa, Kang Marhaen mengingatkan bahwa pengabdian merupakan ruh dari pendidikan tinggi. Menurutnya, keberhasilan seorang mahasiswa tidak hanya diukur dari indeks prestasi, tetapi juga dari sejauh mana ilmu yang dimiliki mampu memberikan manfaat bagi orang lain.

"Hari ini kalian bukan hanya membawa nama Unesa, tetapi juga membawa harapan masyarakat. Jadilah mahasiswa yang mampu mendengar, memahami, lalu memberikan solusi. Kehadiran kalian harus benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat," ujar Kang Marhaen.


Ia menegaskan bahwa tantangan bangsa ke depan membutuhkan generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian sosial, integritas, serta keberanian untuk turun langsung menyelesaikan persoalan di lapangan.

"Belajarlah dari masyarakat. Di sana kalian akan menemukan persoalan yang tidak selalu ada di dalam buku. Dari sanalah lahir inovasi, kreativitas, dan kepemimpinan. Seorang sarjana yang hebat bukan hanya pandai berbicara, tetapi mampu menghadirkan perubahan," tegasnya.


Sebagai Bupati Nganjuk, Kang Marhaen juga membuka ruang kolaborasi seluas-luasnya bagi mahasiswa Unesa. Ia berharap program seperti KKN Tematik dapat menjadi jembatan percepatan pembangunan daerah, mulai dari penguatan sektor pertanian modern, pengembangan kawasan industri, pemberdayaan UMKM, digitalisasi pelayanan publik, hingga pengembangan potensi wisata berbasis masyarakat.

"Daerah membutuhkan ide-ide segar dari anak muda. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Ketika kampus, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat bersatu, maka akan lahir pembangunan yang lebih cepat, lebih tepat, dan lebih berkelanjutan," katanya.


Menurutnya, mahasiswa merupakan agen perubahan yang memiliki energi besar untuk menciptakan inovasi. Karena itu, setiap lokasi penugasan harus dijadikan ruang belajar sekaligus tempat mengabdi.

"Jangan datang hanya untuk menyelesaikan kewajiban akademik. Tinggalkan jejak yang baik. Tinggalkan program yang bisa terus dimanfaatkan masyarakat setelah kalian kembali ke kampus. Itulah makna sesungguhnya dari mahasiswa berdampak," pesan Kang Marhaen yang disambut tepuk tangan ribuan peserta.


Program Mahasiswa Berdampak Mobilitas Akademik Unesa tahun ini melibatkan 1.152 mitra dari dalam maupun luar negeri. Program tersebut dirancang secara inklusif dengan melibatkan mahasiswa afirmasi serta mahasiswa penyandang disabilitas, sehingga setiap peserta memperoleh kesempatan yang sama untuk belajar dan berkontribusi.


Mahasiswa akan mengikuti sembilan skema pembelajaran, yakni magang, pengenalan lapangan persekolahan (PLP), riset, pertukaran mahasiswa, KKN Tematik, wirausaha, studi independen, asistensi mengajar, serta proyek kemanusiaan. Seluruh skema dirancang agar mahasiswa mampu mengembangkan kompetensi akademik sekaligus memperkuat kemampuan beradaptasi, bekerja sama, memecahkan masalah, serta membangun empati.


Wamendiktisaintek Fauzan menilai pendekatan tersebut menjadi langkah penting dalam menghadirkan pendidikan tinggi yang relevan dengan kebutuhan bangsa. Menurutnya, mahasiswa harus belajar langsung dari realitas sosial agar mampu melahirkan solusi yang aplikatif.

"Karya akademik kampus tidak boleh berhenti menjadi tumpukan jurnal ilmiah. Hasil pembelajaran harus mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan memberikan manfaat nyata bagi kehidupan," ujarnya.


Sementara itu, Rektor Unesa Prof. Dr. Nurhasan menjelaskan bahwa mobilitas akademik merupakan bentuk transformasi pembelajaran yang menjadikan masyarakat sebagai ruang belajar sesungguhnya.

"Di era global, mahasiswa tidak cukup hanya menguasai teori. Mereka juga harus memiliki karakter, disiplin, tanggung jawab, kemampuan problem solving, empati, dan kemampuan bekerja dalam tim. Semua itu hanya bisa ditempa melalui pengalaman langsung di lapangan," jelas Cak Hasan.


Peluncuran program ditandai dengan penyematan rompi kepada 12 mahasiswa yang mewakili keberagaman peserta, terdiri atas empat mahasiswa penyandang disabilitas, dua mahasiswa asal Papua, dua mahasiswa asing, serta empat mahasiswa reguler.


Pada momentum yang sama, Unesa juga memperkenalkan maskot baru bernama Si Prio, akronim dari Progresif, Responsif, Inovatif, dan Optimis, sebagai bagian dari rangkaian peringatan Dies Natalis ke-62 Unesa.


Bagi Kang Marhaen, semangat yang dibawa Si Prio menjadi simbol bahwa lulusan perguruan tinggi harus mampu menjawab tantangan zaman dengan karya dan pengabdian.

"Indonesia membutuhkan lulusan yang tidak hanya mengejar kesuksesan pribadi, tetapi juga menghadirkan manfaat bagi lingkungan sekitarnya. Jadilah generasi yang mampu menginspirasi, membangun, dan membawa perubahan. Ketika ilmu dipadukan dengan kepedulian, maka masa depan bangsa akan menjadi jauh lebih kuat," pungkasnya.



(AWA)