Bukan Sekadar Coretan, 105 Meter Tembok Satlantas Nganjuk Jadi Galeri Pesan Keselamatan -->

Javatimes

Bukan Sekadar Coretan, 105 Meter Tembok Satlantas Nganjuk Jadi Galeri Pesan Keselamatan

javatimesonline
28 September 2026
Peserta saat membuat mural di tembok pagar kawasan Satlantas Polres Nganjuk 

NGANJUK, JAVATIMES – Tembok pagar sepanjang kurang lebih 105 meter di kawasan Satlantas Polres Nganjuk, Minggu (27/9/2026), mendadak berubah menjadi kanvas raksasa.


Di atas permukaannya, warna-warni cat berpadu dengan goresan kuas dan kreativitas para peserta Lomba Mural Tingkat Jawa Timur. Namun, karya yang lahir bukan sekadar untuk memperindah tembok. Di balik setiap gambar, terselip pesan tentang keselamatan yang ditujukan kepada siapa pun yang melintas dan melihatnya.


Kegiatan tersebut digelar Satlantas Polres Nganjuk dalam rangka memperingati HUT Lalu Lintas Bhayangkara ke-71. Mengusung tema “Wujudkan Kamseltibcarlantas yang Aman, Tertib dan Berkeselamatan di Kabupaten Nganjuk”, lomba mural menjadi salah satu cara menyampaikan edukasi lalu lintas melalui pendekatan seni visual.


Kasat Lantas Polres Nganjuk AKP Afandy Dwi Takdir mengatakan, sejumlah pesan keselamatan dituangkan peserta melalui karya mereka. Di antaranya ajakan tertib menggunakan helm SNI, tidak melawan arus, tidak melakukan balap liar, memperhatikan keselamatan pejalan kaki, hingga kampanye zero accident.

“Sub tema yang dituangkan di antaranya tertib menggunakan helm SNI, stop melawan arus, stop balap liar, keselamatan bagi pejalan kaki, hingga pesan zero accident,” kata Afandy.


Peserta yang terlibat datang dari beragam latar belakang. Mulai komunitas seni, pelajar SMA/SMK hingga masyarakat umum. Mereka dapat mengikuti lomba secara perorangan maupun berkelompok dengan jumlah anggota dua hingga 10 orang dalam satu tim.


Tidak hanya berasal dari Nganjuk. Sejumlah peserta datang dari berbagai daerah, di antaranya Kediri, Madiun, Probolinggo, Semarang dan Magelang.


Keragaman peserta tersebut membuat lomba mural tidak hanya menjadi ruang kompetisi kreativitas, tetapi juga mempertemukan komunitas seni dengan kepolisian dan masyarakat dalam satu kegiatan yang membawa pesan keselamatan.


Antusiasme peserta, menurut Afandy, cukup tinggi. Ia menilai seni visual dapat menjadi medium alternatif untuk menyampaikan edukasi lalu lintas karena pesan yang disampaikan dapat dilihat berulang kali oleh masyarakat.

“Kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi perlombaan seni, tetapi juga menjadi media edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya keselamatan berlalu lintas,” ujarnya.


Bagi Satlantas Polres Nganjuk, pesan keselamatan tidak selalu harus disampaikan melalui imbauan formal. Melalui mural, pesan mengenai keamanan, keselamatan, ketertiban dan kelancaran lalu lintas atau Kamseltibcarlantas dapat dikemas dalam bentuk yang lebih dekat dengan kreativitas anak muda.


Pesan itu kemudian ditempatkan di ruang yang mudah terlihat. Tembok pagar Satlantas Polres Nganjuk sepanjang sekitar 105 meter diharapkan tidak berhenti sebagai bidang pembatas, tetapi berubah menjadi ruang publik yang memiliki fungsi edukatif.


Afandy mengatakan, kawasan tersebut diharapkan dapat menjadi galeri mural terbuka yang memadukan unsur seni dengan pendidikan lalu lintas.

“Harapannya, tembok pagar Satlantas Polres Nganjuk ini menjadi galeri mural terbuka yang memiliki pesan-pesan Kamseltibcarlantas dan bisa menjadi ikon baru sekaligus sarana Dikmas Lantas yang permanen,” kata mantan Kasat Lantas Polres Kediri Kota tersebut.


Lebih dari sekadar mempercantik lingkungan, keberadaan mural diharapkan membuat pesan keselamatan hadir dalam keseharian masyarakat. Ketika seseorang berhenti, melintas, atau sekadar memandang karya tersebut, pesan tentang pentingnya tertib di jalan kembali diingatkan melalui gambar dan warna.


Di sisi lain, lomba tersebut juga membuka ruang bagi generasi muda dan komunitas seni untuk menyampaikan gagasan mereka mengenai keselamatan berlalu lintas. Kreativitas tidak hanya ditempatkan sebagai karya seni, tetapi diarahkan untuk membawa pesan sosial yang dapat dipahami masyarakat luas.


Pelaksanaan kegiatan turut melibatkan Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata (Disporabudpar) Kabupaten Nganjuk bersama komunitas seni. Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya mempertemukan institusi kepolisian, pemerintah daerah dan masyarakat melalui kegiatan yang bersifat edukatif dan kreatif.

“Dengan adanya kolaborasi ini diharapkan tidak hanya menghasilkan karya seni, tetapi juga memperkuat hubungan antara kepolisian, pemerintah daerah dan masyarakat dalam membangun budaya tertib serta aman berlalu lintas,” ungkap AKP Afandy Dwi Takdir.


Kini, 105 meter tembok itu tidak lagi sekadar menjadi pagar. Ia diproyeksikan menjadi ruang visual yang terus mengingatkan masyarakat bahwa keselamatan di jalan bukan hanya urusan petugas lalu lintas, melainkan tanggung jawab bersama setiap pengguna jalan.



(AWA)