Aroma Busuk PT JPN Lumpuhkan KBM SMPN 4 Jombang: Siswa Muntah-muntah, DLH Gelar Sidak Tertutup Ada Apa? -->

Javatimes

Aroma Busuk PT JPN Lumpuhkan KBM SMPN 4 Jombang: Siswa Muntah-muntah, DLH Gelar Sidak Tertutup Ada Apa?

javatimesonline
28 September 2026

PT JPN 

JOMBANG, JAVATIMES — Bau busuk menyengat dari fasilitas pengemasan ayam milik PT Jombang Pangan Nusantara (JPN) mendadak melumpuhkan aktivitas belajar mengajar di SMPN 4 Jombang. Limbah cair yang meluap hingga membuat para siswa mual dan muntah ini memicu protes keras dari pihak sekolah dan warga sekitar, sekaligus menyoroti keberadaan pabrik berpolusi yang berdiri tepat di samping fasilitas pendidikan.


Puncak krisis kesehatan lingkungan adalah ketika Bau busuk mirip limbah amoniak memapar ruang-ruang kelas hingga memaksa pihak sekolah mengambil tindakan darurat.


Kepala Sekolah SMPN 4 Jombang, Slamet Agus Tri Prastyo, mengungkapkan bahwa paparan bau sebenarnya sudah terasa sejak beberapa hari sebelumnya. Namun, situasi memburuk drastis pada hari ketiga.

"Siswa sampai mual dan muntah-muntah, guru-guru juga tidak sanggup mengajar di dalam kelas. Karena mengutamakan kesehatan dan keselamatan anak-anak, saya langsung berkoordinasi dengan dinas untuk mengizinkan pembelajaran dialihkan secara daring," ujar Agus tegas, Senin (28/9/2026).


Temuan Lapangan: Pelanggaran Prosedur dan Saluran Tersumbat

Guna mencari sumber masalah, pihak sekolah bersama jajaran guru mendatangi lokasi pabrik yang berada persis di sebelah bangunan kelas. Di lokasi, mereka mendapati air limbah cair hasil pengolahan ayam telah meluap dan mengalir bebas ke saluran got umum.


Luapan limbah tersebut dipicu oleh penyumbatan parah pada saluran sanitasi pabrik akibat penumpukan endapan lemak dan kotoran. Tak hanya masalah sanitasi, investigasi mandiri pihak sekolah juga membongkar dugaan pelanggaran prosedur operasional (SOP) oleh manajemen pabrik.

"Fasilitas di sini seharusnya hanya untuk pengemasan ayam, bukan tempat pencucian. Tapi ternyata pekerja melakukan pencucian di lokasi ini sehingga limbah cairnya menyumbat dan meluap," terang Agus.


Upaya komunikasi awal sebenarnya telah dilakukan pihak sekolah sejak hari pertama bau muncul melalui pesan WhatsApp. Namun, respons tak kunjung didapat lantaran karyawan pabrik mengganti nomor telepon tanpa pemberitahuan.


Bukan kali ini saja PT JPN memicu kegaduhan. Sebelum insiden limbah bau busuk ini, pihak sekolah tercatat pernah melayangkan komplain atas kebisingan suara mesin serta aktivitas pembakaran sampah berasap hitam yang mengepul masuk ke area kelas saat jam pelajaran berlangsung.


Keluhan Warga: "Apakah Karena Punya Uang dan Dekengan?"

Dampak bau tak sedap ini ternyata juga menghantui pemukiman warga sekitar. Salah seorang warga lokal (warlok) membeberkan bahwa aroma menyengat tersebut hampir setiap waktu merusak kenyamanan hidup masyarakat, terutama pada malam hari.


Warga pun mempertanyakan legalitas dan kelayakan izin pendirian pabrik pengolahan hewan yang berlokasi persis di samping sekolah.

"Yang saya herankan, kok bisa ya pabrik berdiri di samping fasilitas pendidikan padahal jelas-jelas itu produksi yang mengeluarkan bau busuk? Apakah memang diperbolehkan sama aturan, ataukah sebenarnya tidak boleh tapi karena pemiliknya punya uang dan punya dekengan (pelindung) sehingga pabrik bisa berdiri dan beroperasi?" keluh warga dengan nada penuh tanya.


Pemilik Minta Maaf, Akui Kelalaian Pekerja

Merespons gelombang protes yang membesar, Pemilik PT Jombang Pangan Nusantara, Atta beserta istrinya Anisa, mendatangi pihak sekolah untuk menyampaikan permohonan maaf dan mengklarifikasi kejadian tersebut.


Pihak manajemen mengakui adanya kelalaian pekerja yang nekat melakukan kegiatan pencucian ayam di fasilitas yang seharusnya khusus untuk pengemasan. Pemilik berjanji akan menghentikan seluruh aktivitas pencucian di lokasi tersebut dan memindahkannya ke fasilitas lain.


Sidak Tertutup DLH dan Disdikbud: Penegakan Hukum atau Formalitas Belaka?

Menindaklanjuti aduan masyarakat dan pihak sekolah, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jombang bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Jombang menggelar inspeksi mendadak (sidak) di lokasi pabrik PT Jombang Pangan Nusantara.


Sidak tersebut dihadiri langsung oleh pasangan pemilik pabrik, Atta dan Anisa. Namun, proses sidak berlangsung tertutup dan terkesan misterius. Awak media yang berada di lokasi dilarang meliput proses pemeriksaan, sementara pemilik pabrik menolak memberikan keterangan.


Sikap tertutup juga ditunjukkan oleh perwakilan DLH Jombang usai menginspeksi lokasi. Saat coba dikonfirmasi oleh awak media, petugas hanya memberikan jawaban singkat dan menghindar.

"Langsung ke Kepala Dinas saja konfirmasinya," ujar perwakilan DLH singkat.


Sikap bungkam instansi terkait dan transparansi yang minim ini menyulut spekulasi publik. Masyarakat kini mempertanyakan keseriusan Pemkab Jombang: apakah DLH benar-benar akan menjatuhkan sanksi tegas atas pelanggaran lingkungan yang mengorbankan kesehatan siswa, ataukah sidak ini sekadar agenda formalitas untuk meredam amarah publik?


Hingga berita ini diturunkan, pemilik usaha PT Jombang Pangan Nusantara belum memberikan keterangan resmi secara terbuka dan menolak didokumentasikan selama kegiatan sidak berlangsung.



(Gading)