
Ilustrasi Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri ada di persimpangan integritas (AI)
KEDIRI, JAVATIMES — Riak kecil di SMPN 1 Purwoasri kini menjelma menjadi gelombang besar. Dugaan setoran Rp300 ribu dari honor tenaga honorer yang sebelumnya terungkap melalui pengakuan internal sekolah tak lagi berhenti sebagai isu lokal. Perkara ini resmi masuk radar Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri.
Sebelumnya, publik dikejutkan oleh pengakuan tenaga honorer yang menyebut adanya setoran seragam Rp300.000, disusul pemanggilan mendadak oleh kepala sekolah setelah wartawan melakukan konfirmasi. Klarifikasi berubah menjadi pemanggilan. Pertanyaan berubah menjadi tekanan. Dan ruang kepala sekolah berubah menjadi ruang “penjernihan” versi kekuasaan.
Di tengah kabut narasi itu, kini bola panas bergulir ke kantor Dinas Pendidikan.
Kepala Disdik Kabupaten Kediri, DR Mokhamad Muhsin, menyatakan pihaknya akan turun langsung ke lapangan.
“Matur nuwun informasinya, hari ini tim dari Disdik akan mengecek ke lokasi,” tulis Muhsin melalui pesan WhatsApp, Jumat (14/2/2026) pagi.
Pernyataan itu seolah menjadi titik terang di tengah gelapnya transparansi. Namun terang itu belum benar-benar menyala.
Saat ditanya lebih lanjut tentang langkah konkret jika dugaan setoran terbukti, Muhsin memilih bersikap normatif.
“Ditunggu dulu nggih hasil pengecekan di sekolah. Ada mekanisme pemeriksaan yang harus dijalani pegawai yang diduga melakukan pelanggaran disiplin pegawai, sebelum nanti penetapan sanksi oleh pejabat pembina kepegawaian,” ujarnya.
Sunyi Setelah Janji
Masalahnya, setelah janji pengecekan disampaikan, komunikasi justru terhenti.
Saat Javatimes mencoba mengonfirmasi ulang, apakah tim benar-benar sudah turun ke SMPN 1 Purwoasri, apa hasil awal pengecekan, dan langkah konkret apa yang akan diambil, tak ada jawaban.
Di titik ini, pertanyaannya berubah, apakah pengecekan benar-benar terjadi? ataukah hanya pernyataan normatif untuk meredam tekanan publik?

Komentar