Wajah Baru SDN 2 Ngepung Mulai Terlihat, Revitalisasi Ditarget Rampung Akhir 2026 -->

Javatimes

Wajah Baru SDN 2 Ngepung Mulai Terlihat, Revitalisasi Ditarget Rampung Akhir 2026

javatimesonline
15 September 2026

Revitalisasi SDN 2 Ngepung Kecamatan Lengkong 

NGANJUK, JAVATIMES – Perubahan sebuah sekolah terkadang dimulai dari hal yang sederhana, mulai dari ruang kelas yang lebih layak, ruang guru yang lebih nyaman, hingga lingkungan sekolah yang tertata dan aman.


Semangat itulah yang kini tengah dibangun di SDN 2 Ngepung, Kecamatan Lengkong, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur.


Melalui Bantuan Pemerintah Program Revitalisasi Satuan Pendidikan yang digulirkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, sekolah tersebut mulai berbenah. Program yang bersumber dari APBN Tahun Anggaran 2026 itu memiliki nilai anggaran sebesar Rp738.620.600.


Pekerjaan revitalisasi mulai dilaksanakan pada awal September 2026. Hingga Selasa, 15 September 2026, progres pengerjaan telah berada di kisaran 25 hingga 30 persen.


Sejumlah bagian sekolah menjadi sasaran revitalisasi. Di antaranya ruang guru, ruang kelas, serta penataan lingkungan sekolah berupa pembangunan atau pembenahan pagar.


Bagi sekolah, revitalisasi bukan sekadar memperbaiki bangunan fisik. Lebih dari itu, program tersebut diharapkan dapat menghadirkan lingkungan pendidikan yang semakin nyaman sehingga mendukung aktivitas belajar mengajar bagi siswa maupun guru.


Ketua Panitia Pembangunan Satuan Pendidikan (P2SP) SDN 2 Ngepung, Mukadi, mengatakan pekerjaan terus berjalan sesuai tahapan yang telah direncanakan.

“Progres sampai hari ini sekitar 25 sampai 30 persen. Pekerjaan sudah dimulai sejak awal September dan sekarang terus kami lanjutkan sesuai dengan rencana,” ujar Mukadi.


Dalam pelaksanaannya, P2SP juga menghadapi tantangan yang cukup sederhana, namun menjadi persoalan penting di lapangan. Salah satunya adalah ketersediaan air.


Wilayah sekitar sekolah memiliki sumber air yang relatif sulit. Kondisi tersebut membuat kebutuhan air untuk proses pekerjaan tidak sepenuhnya dapat mengandalkan sumber air yang tersedia di lokasi.


Sebagai solusi, P2SP harus membeli air untuk menunjang kebutuhan selama proses pembangunan berlangsung.


Meski demikian, kondisi tersebut tidak menghentikan pekerjaan. Material-material lain yang dibutuhkan untuk pengerjaan disebut telah tersedia, sehingga proses revitalisasi tetap dapat berjalan.

“Kalau untuk air memang menjadi salah satu kendala karena sumber air di sini cukup sulit. Jadi untuk kebutuhan pekerjaan, kami membeli air. Sementara material lainnya sudah tersedia,” jelas Mukadi.


Menariknya, pengerjaan revitalisasi SDN 2 Ngepung dilaksanakan secara swakelola. Dalam prosesnya, P2SP melibatkan masyarakat setempat sebagai tenaga kerja.


Pelibatan warga sekitar tidak hanya menjadi bagian dari mekanisme pelaksanaan pekerjaan, tetapi juga menghadirkan manfaat lain bagi lingkungan sekitar sekolah. Program pembangunan pendidikan secara tidak langsung membuka ruang partisipasi masyarakat dalam memperbaiki fasilitas pendidikan di wilayahnya sendiri.


Dengan pola tersebut, pembangunan sekolah tidak hanya menjadi pekerjaan pemerintah atau pihak sekolah semata. Masyarakat juga ikut mengambil bagian dalam menghadirkan ruang pendidikan yang lebih baik bagi anak-anak di lingkungan sekitar.

“Karena pelaksanaannya swakelola, kami juga melibatkan masyarakat setempat dalam pekerjaan,” kata Mukadi.


Sesuai MoU atau perjanjian kerja sama, pelaksanaan program revitalisasi tersebut memiliki batas waktu hingga 31 Desember 2026 atau selama 150 hari kalender.


Rentang waktu tersebut menjadi ruang bagi P2SP untuk memastikan setiap tahapan pekerjaan dapat dilaksanakan secara terukur, sekaligus menjaga kualitas hasil revitalisasi.


Kini, perubahan perlahan mulai terlihat di SDN 2 Ngepung. Dari ruang guru, ruang kelas, hingga penataan lingkungan melalui pagar sekolah, setiap bagian dikerjakan dengan harapan mampu memberikan wajah baru bagi satuan pendidikan tersebut.


Revitalisasi itu pun bukan semata tentang seberapa cepat bangunan selesai dikerjakan. Ada harapan yang lebih panjang di baliknya: menghadirkan sekolah yang semakin layak, nyaman, aman, dan mampu menjadi ruang tumbuh bagi generasi penerus.


Sebab, ketika lingkungan sekolah dibenahi, yang sesungguhnya sedang dipersiapkan bukan hanya sebuah bangunan, melainkan juga ruang tempat anak-anak belajar, tumbuh, dan menata masa depan.



(Tim)