![]() |
| Tangkapan layar sejumlah kepala sekolah SD di Kecamatan Sukomoro sedang bernyanyi dan berjoget saat kegiatan belajar mengajar |
NGANJUK, JAVATIMES — Saat murid-murid Sekolah Dasar masih berjuang mengeja pelajaran di dalam kelas, sebagian kepala sekolah justru memilih “mengeja” nada lagu di balik dinding yang sama. Ironi itu terjadi di kompleks Korwil Pendidikan Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk, Kamis (22/1/2026).
Bertempat di gedung pertemuan Koordinator Wilayah (Korwil) Pendidikan Kecamatan Sukomoro, seluruh kepala sekolah di bawah naungan korwil setempat menggelar rapat yang dipimpin langsung oleh Korwil Pendidikan Kecamatan Sukomoro, Manika. Rapat berlangsung sebagaimana mestinya hingga acara resmi dinyatakan selesai.
Namun selepas forum ditutup, suasana berubah. Sebagian kepala sekolah langsung beranjak meninggalkan lokasi. Sebagian lainnya justru bertahan di dalam ruangan. Bukan untuk evaluasi, bukan pula untuk diskusi lanjutan. Mereka memanfaatkan “waktu kosong” dengan bernyanyi menggunakan pengeras suara. Beberapa bahkan tampak berjoget di hadapan rekan sejawatnya.
Masalahnya, aksi hiburan itu berlangsung bersamaan dengan kegiatan belajar mengajar (KBM) di SDN Sukomoro 3, sekolah dasar yang berada dalam satu kawasan dengan gedung korwil tersebut. Suara musik dan nyanyian dari pengeras suara terdengar jelas hingga menembus ruang-ruang kelas, mengganggu konsentrasi siswa yang sedang belajar.
Alih-alih menjadi teladan etika pendidikan, sejumlah kepala sekolah justru memperlihatkan wajah lain dunia pendidikan, abai terhadap ruang belajar, abai terhadap waktu belajar, dan abai terhadap tanggung jawab moral sebagai pemimpin sekolah.
Peristiwa itu sempat terpotret oleh awak media. Menyadari aksinya direkam, salah seorang kepala sekolah berjenis kelamin perempuan tampak bergegas meninggalkan lokasi. Saat dikonfirmasi, ia berdalih sedang buru-buru kembali ke sekolah.
“Selesai rapat, Mas. Ini mau kembali ke sekolah,” ujarnya singkat.
Namun fakta di lapangan berkata lain. Sejumlah kepala sekolah lain masih terlihat asyik bernyanyi menggunakan pengeras suara. Beberapa di antaranya bahkan terlihat gelisah dan mulai meninggalkan lokasi setelah menyadari kehadiran kamera awak media.
Peristiwa ini memunculkan pertanyaan serius, di mana kepekaan para pemimpin pendidikan saat ruang belajar terganggu oleh ulah mereka sendiri? Di mana etika birokrasi pendidikan ketika suara hiburan justru lebih lantang daripada suara guru di kelas?
Ketika kepala sekolah yang seharusnya menjadi penjaga marwah pendidikan larut dalam euforia tanpa empati, maka yang menjadi korban bukan hanya ketertiban, tetapi juga wibawa dunia pendidikan itu sendiri.
(AWA)

Komentar