![]() |
| Pekerjaan revitalisasi di SD Negeri 1 Putren Kecamatan Sukomoro Kabupaten Nganjuk |
NGANJUK, JAVATIMES – Sebuah sekolah tidak selalu berubah dalam satu malam. Kadang, perubahan itu dimulai dari suara material yang datang, kayu yang mulai dirakit, atap yang perlahan dibenahi, hingga aktivitas para pekerja yang kembali menghidupkan sudut-sudut sekolah.
Pemandangan seperti itulah yang kini berlangsung di SD Negeri 1 Putren, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk.
Sekolah tersebut menjadi salah satu penerima Bantuan Pemerintah Program Revitalisasi Satuan Pendidikan dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Tahun Anggaran 2026. Nilainya tidak kecil, yakni Rp789.078.509 yang bersumber dari APBN 2026.
Anggaran tersebut kini diterjemahkan menjadi pekerjaan nyata di lingkungan sekolah. Enam ruang kelas masuk dalam pekerjaan revitalisasi, disusul seluruh fasilitas toilet yang tersedia, perpustakaan, serta penataan lingkungan sekolah.
Bagi sekolah, pekerjaan itu bukan sekadar urusan bangunan. Sebab, ruang kelas, toilet, perpustakaan hingga lingkungan sekolah merupakan bagian dari ekosistem yang setiap hari digunakan anak-anak untuk belajar dan beraktivitas.
Ketua Panitia Pembangunan Satuan Pendidikan (P2SP) SDN 1 Putren, Rachmat Duta Dharmawan, mengatakan pelaksanaan revitalisasi dilakukan dengan target penyelesaian paling lambat 31 Desember 2026 atau selama 150 hari.
“Ruang kelasnya ada enam. Kemudian toilet. Semua toilet yang ada di sekolah itu ter-cover, sama perpustakaan,” ujar Duta.
Namun, revitalisasi kali ini tidak berhenti pada ruang-ruang utama sekolah.
Ada satu bagian yang selama ini belum sepenuhnya tercover, yakni pagar pada sisi sekolah yang berada di sekitar UKS dan area belakang. Melalui komponen perencanaan lingkungan, kebutuhan tersebut diarahkan untuk pembangunan pagar.
“Perencanaan lingkungan itu menyesuaikan kebutuhan sekolah. Bisa digunakan untuk paving atau pagar. Untuk SD Putren ini sepertinya digunakan untuk pagar, karena di sebelah UKS atau area belakang itu belum ter-cover pagar,” jelasnya.
Di titik inilah program revitalisasi memperlihatkan bahwa pembangunan fasilitas pendidikan tidak selalu identik dengan bangunan besar. Hal-hal yang terlihat sederhana, seperti pagar dan lingkungan sekolah, justru dapat menjadi bagian penting dalam menciptakan ruang pendidikan yang lebih aman dan tertata.
Sementara itu, pekerjaan utama saat ini masih berfokus pada bagian atap.
Progres pembangunan telah mencapai sekitar 10 persen. P2SP memastikan pelaksanaan di lapangan sejauh ini masih berjalan sesuai perencanaan. Material yang dibutuhkan juga disebut tidak mengalami keterlambatan.
“Untuk progres saya kira sudah sesuai dengan perencanaannya. Pekerjaan utamanya ada di bagian atap. Progresnya sudah sesuai rencana, material juga tidak ada keterlambatan,” ungkap Duta.
Sebagian material bahkan telah tiba sejak Sabtu. Tahapan pekerjaan kemudian berlanjut pada proses perakitan kayu.
Di balik progres tersebut, ada persoalan lain yang juga harus dijaga, yakni waktu.
Batas akhir pelaksanaan ditetapkan pada 31 Desember 2026. Namun, P2SP tidak ingin pekerjaan fisik baru benar-benar selesai tepat pada hari terakhir.
Targetnya, pekerjaan lapangan sudah rampung sekitar dua minggu sebelum batas akhir. Sisa waktu tersebut akan digunakan untuk menyelesaikan administrasi pertanggungjawaban, termasuk dokumentasi, laporan, kurva kemajuan pekerjaan dan sejumlah dokumen lainnya.
“Batas akhirnya 31 Desember. Harapannya, pekerjaan di lapangan sudah selesai dua minggu sebelum tanggal tersebut. Jadi nanti masih ada waktu untuk menyusun dokumen administrasinya seperti foto, laporan, kurva dan lain-lain,” kata Duta.
Menariknya, pelaksanaan revitalisasi SDN 1 Putren juga membawa cerita lain yang tidak kalah penting. Program tersebut dikerjakan secara swakelola dan melibatkan masyarakat sekitar.
Artinya, pembangunan sekolah tidak hanya menghadirkan perubahan pada fisik bangunan, tetapi juga membuka ruang keterlibatan warga di sekitar satuan pendidikan.
Pihak sekolah sebelumnya telah menyiapkan sejumlah tenaga kerja. Namun, seiring melihat volume pekerjaan yang harus diselesaikan, jumlah tersebut dinilai belum cukup.
“Ada sekitar lima tukang atau pekerja yang disiapkan sekolah. Tetapi kalau melihat pekerjaan sebanyak ini, masih kurang. Saya selaku P2SP membantu mencarikan pekerja untuk memenuhi kebutuhan agar progres berjalan,” terang Duta.
Keterlibatan tenaga kerja lokal tersebut menjadi bagian dari upaya agar manfaat program pemerintah tidak berhenti pada bangunan yang nantinya berdiri, tetapi turut dirasakan oleh masyarakat di sekitar sekolah.
Aspek keselamatan kerja pun tidak dilewatkan. Setiap pekerja dibekali alat pelindung diri (APD) dan didaftarkan dalam BPJS Ketenagakerjaan.
Dengan demikian, proses revitalisasi tidak hanya dituntut mengejar kecepatan penyelesaian pekerjaan. Keselamatan pekerja, keteraturan pelaksanaan, keterlibatan masyarakat, hingga kelengkapan administrasi menjadi bagian yang harus berjalan beriringan.
Kini, dengan progres sekitar 10 persen, perubahan di SDN 1 Putren baru memasuki tahap awal.
Masih ada perjalanan panjang hingga 31 Desember 2026. Masih ada atap yang harus diselesaikan, ruang yang dibenahi, perpustakaan yang disiapkan, toilet yang direvitalisasi, serta pagar yang akan melengkapi lingkungan sekolah.
Namun dari pekerjaan yang mulai bergerak itu, ada satu harapan yang jauh lebih besar dari sekadar perubahan fisik.
Yakni bagaimana dana APBN sebesar Rp789.078.509 tersebut benar-benar menjelma menjadi fasilitas pendidikan yang dapat dirasakan manfaatnya oleh para siswa dan guru.
Sebab, ukuran keberhasilan revitalisasi sekolah pada akhirnya bukan hanya seberapa besar anggaran yang dikucurkan atau seberapa cepat bangunan selesai dikerjakan.
Lebih dari itu, keberhasilannya akan terlihat ketika anak-anak memasuki ruang kelas yang lebih layak, menggunakan fasilitas sanitasi yang lebih baik, membaca di perpustakaan yang nyaman, dan belajar dalam lingkungan sekolah yang lebih aman.
Di sanalah sebuah angka dalam dokumen anggaran berubah menjadi sesuatu yang nyata, yakni menjadi ruang tumbuh bagi generasi masa depan.
(Tim)

Komentar