Salah Kaprah Menilai Sedekah: Ketika Tradisi Puluhan Tahun "Digoreng" Menjadi Isu Murahan -->

Javatimes

Salah Kaprah Menilai Sedekah: Ketika Tradisi Puluhan Tahun "Digoreng" Menjadi Isu Murahan

javatimesonline
14 Maret 2026

JOMBANG, JAVATIMES – Akhir-akhir ini, jagat media sosial dan portal berita lokal dihangatkan oleh narasi miring terkait kegiatan berbagi di kediaman pribadi Bupati Jombang, Warsubi. Muncul tudingan tak berdasar tentang adanya "permainan panitia" hingga sikap "tutup mata" sang kepala daerah. 

Namun, jika ditelisik lebih dalam, narasi tersebut nampak lebih menyerupai sentimen pribadi ketimbang produk jurnalistik yang kredibel.


Tradisi Lawas, Bukan "Aksi Panggung" Jabatan


Mari kita luruskan logika yang bengkok: Kegiatan berbagi di rumah pribadi Abah Warsubi bukanlah agenda kemarin sore yang baru muncul setelah beliau menjabat. Ini adalah tradisi puluhan tahun yang sudah dijalankan saat beliau masih murni sebagai pengusaha.

Mempermasalahkan teknis pembagian sedekah di rumah pribadi adalah sebuah bentuk salah kaprah yang akut. Sebagai tuan rumah yang merogoh kocek pribadi,bukan uang negara (APBD), Abah Warsubi memiliki hak mutlak (prerogatif) untuk mengatur siapa yang layak menerima dan bagaimana mekanismenya. Mencoba mengintervensi atau mendikte bagaimana seseorang harus bersedekah di rumahnya sendiri adalah tindakan yang tidak hanya konyol, tapi juga tidak tahu etika.


Bau Amis Sentimen Pribadi


Sangat disayangkan jika ada oknum media yang menulis dengan nada menghakimi hanya karena "kepentingan" tertentu tidak terakomodasi di lapangan. Publik patut bertanya: Apakah tulisan tersebut lahir dari keresahan rakyat, atau justru dari rasa kecewa karena si penulis tidak kebagian panggung (atau bagian) di acara tersebut?

Pemberitaan yang menyebut Bupati "tutup mata" adalah lompatan logika yang dipaksakan. Seorang Bupati tidak perlu mengurusi teknis antrean di teras rumahnya sendiri seolah-olah itu adalah proyek infrastruktur daerah. Mencampuradukkan urusan privat dengan jabatan publik adalah ciri dangkalnya pemahaman jurnalistik sang penulis.


Jangan Wariskan Narasi Fitnah


Sedekah adalah hubungan personal antara manusia dengan penciptanya dan sesama. Menggoreng isu sedekah menjadi narasi "permainan" hanya akan memperlihatkan kualitas moral si pembuat berita. Masyarakat Jombang sudah cukup cerdas untuk membedakan mana kritik yang membangun dan mana nyanyian sumbang karena rasa iri atau sentimen yang tidak tersalurkan. Jika setiap kebaikan personal harus dipolitisasi dan dicari celah kesalahannya, maka jangan heran jika suatu saat nanti orang-orang baik akan berpikir dua kali untuk berbagi di tanah kelahirannya sendiri.


Berita seharusnya mencerahkan, bukan menjadi alat pelampiasan karena keinginan yang tak terpenuhi.






(Red)