![]() |
| Proyek tembok penahan jalan di Desa Sebani |
JOMBANG, JAVATIMES -- Peristiwa tidak menyenangkan menimpa salah seorang wartawan asal Kabupaten Jombang, Jawa Timur, akhir-akhir ini.
Kejadian itu terjadi di Desa Sebani, Kecamatan Sumobito, Kabupaten Jombang pada Senin (29/4/2024).
Peristiwa berawal saat salah seorang wartawan, sebut saja DM (inisial) menemukan adanya kejanggalan terkait pekerjaan pembangunan tembok penahan jalan di Dusun/Desa Sebani dengan menggunakan anggaran bantuan keuangan khusus.
DM menjelaskan, saat mendatangi lokasi pengerjaan proyek, dirinya tidak melihat adanya papan proyek. Bahkan parahnya, sejumlah sampah berserakan di sekitar lokasi pengerjaan tersebut.
Sampah itu mulai dari kayu, ranting pohon, dan pohon pisang yang terpotong menjadi sejumlah bagian.
Melihat hal tersebut, lantas DM mendokumentasikannya. Saat itu ia juga menanyakan ke sejumlah pekerja terkait siapa orang yang dipercaya menjadi tim pelaksana kerja (TPK) dan sejumlah sampah yang berserakan di bawah tanah urugan.
Hanya saja, DM tak mendapat jawaban yang melegakan. Sejumlah pekerja yang ditanyainya justru melempar ke pemerintahan desa setempat.
Pekerja tersebut menjawab dengan singkat 'langsung ke balai desa saja mas, saya hanya pekerja', ucap DM menirukan jawaban sejumlah pekerja, Rabu (1/5/2024).
Mendapati jawaban itu, lantas DM mendatangi balai desa. Sedianya kehadiran DM disambut baik oleh Kepala Desa (Kades) Sebani.
Hanya saja hal itu tidak berlangsung lama. Begitu menunjukkan sejumlah foto, DM mengaku kena marah.
Saya merasa kenal dekat dengan Pak Kades, lalu saya coba konfirmasi ke Pak Kades. Awalnya disambut dengan baik dan saya bilang bahwa saya mau konfirmasi terkait kerjaan tembok penahan jalan di Dusun Sebani, kemudian saya keluarkan HP sambil menunjukkan foto lokasi, spontanitas Pak Kades langsung marah marah, kata DM.
Kalau kamu cari masalah kamu keluar dari sini dan jangan pernah kesini, kamu ambil foto tanpa izin, ini wewenang tipikor dan inspektorat, tak laporkan kamu nanti, tutur DM menirukan pernyataan Kades Sebani.
Tidak hanya itu, DM mengaku bahwa Kades juga sempat mendorong dan mengusir dirinya.
Pak Kades saat menyampaikan itu sambil pegang lengan dan mendorong saya untuk keluar dari dalam ruangan hingga pintu keluar. Saat itu saya memang tidak merespon kemarahan Pak Kades karena saya sendiri bingung ketika saya konfirmasi baik-baik dan diperlakukan seperti itu bahkan sempat ngancam mau melaporkan saya, saya hanya bisa ngomong monggo di laporkan sambil saya beranjak ke parkiran motor, kenang DM sambil berkaca-kaca.
Saya merasa selama ini komunikasi baik dengan Pak Kades, di sini saya jadi berfikir dan bertanya-tanya apa yang salah dari foto yang saya sampaikan tadi, atau memang serendah inikah profesi yang saya jalani sehingga oknum pejabat bisa seenaknya merendahkan dan mengusir saya, sambung DM.
Merespon perlakuan Kades tersebut, kata DM, dirinya sebagai wartawan sangat menyadari bahwa apapun yang terjadi di lapangan itulah resiko yang harus dihadapinya.
Saya hanya berharap, semoga ke depannya tidak ada lagi intimidasi terhadap teman-teman wartawan oleh oknum-oknum pejabat, tutup DM.
Menyoal pengakuan DM, Kades Sebani Sunaryo yang dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp mengaku khilaf atas apa yang dilakukannya.
Pangapunten masalah pelecehan sing kados pundi jenengan taglet wartawan sekabupaten Jombang waktu niku kulo kilap Pak DM nujuk aken bangunan sing dereng mantun sampun umur 62 tahun. Menurut Kajeng Nabi usia 63 setengah kulo pados seduluran jabatan nopo mawon disuwuni pertagungjawaban dunia/akerat, tulis Kades Sumaryo melalui pesan WhatsAppnya.
(Gading)

Komentar