Dinas PUPR Nganjuk Hadirkan Simojjang, Warga Kini Bisa Laporkan Jalan Rusak dari Genggaman Tangan -->

Javatimes

Dinas PUPR Nganjuk Hadirkan Simojjang, Warga Kini Bisa Laporkan Jalan Rusak dari Genggaman Tangan

javatimesonline
20 Agustus 2026
Dinas PUPR Nganjuk kenalkan aplikasi Simojjang

NGANJUK, JAVATIMES – Pernah menemukan jalan berlubang saat sedang berkendara, tetapi bingung harus melapor ke mana?


Atau mungkin pernah melihat ruas jalan yang rusak semakin parah, sementara keluhan hanya berhenti di obrolan warung kopi, grup WhatsApp, maupun media sosial?


Kini, warga Kabupaten Nganjuk memiliki cara yang jauh lebih sederhana.


Cukup dengan telepon pintar yang ada di genggaman, masyarakat dapat ikut menjadi “mata” pemerintah untuk memantau kondisi jalan melalui Simojjang, Sistem Informasi Monitoring Jalan dan Jembatan Nganjuk.


Inovasi yang dikembangkan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Nganjuk tersebut membawa sebuah pesan sederhana: pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur bukan hanya menjadi urusan pemerintah, tetapi juga membutuhkan keterlibatan masyarakat.


Bayangkan, seorang warga sedang melintas di sebuah ruas jalan. Di tengah perjalanan, ia menemukan badan jalan berlubang. Jika dahulu mungkin hanya mengeluh karena perjalanan menjadi tidak nyaman, kini warga dapat mengambil foto kerusakan tersebut, mencatat lokasinya, kemudian mengirimkan laporan melalui Simojjang.


Laporan itu kemudian menjadi informasi bagi pemerintah. Di situlah cerita Simojjang bermula.


Kabupaten Nganjuk memiliki jaringan jalan kabupaten yang tidak sedikit. Dalam materi yang ditampilkan Dinas PUPR, tercatat sebanyak 916 ruas jalan dengan total panjang mencapai 1.475,02 kilometer.


Dengan bentangan jalan sepanjang itu, pemantauan tentu bukan pekerjaan sederhana.


Setiap ruas memiliki karakteristik dan kondisi yang berbeda. Ada jalan yang masih dalam kondisi baik, ada yang membutuhkan pemeliharaan, ada pula yang mengalami kerusakan dan membutuhkan penanganan lebih lanjut.


Karena itu, Dinas PUPR membutuhkan sistem yang mampu membantu memetakan kondisi jalan secara lebih cepat dan terukur.


Simojjang hadir untuk menjawab kebutuhan tersebut. Melalui aplikasi ini, kondisi jalan dapat dipantau berdasarkan wilayah. Peta digital yang ditampilkan dalam sistem memperlihatkan persebaran jaringan jalan Kabupaten Nganjuk hingga tingkat kecamatan.


Bukan sekadar garis di atas peta. Setiap titik dapat menjadi informasi penting mengenai kondisi infrastruktur di lapangan.


Dalam video sosialisasi Simojjang, masyarakat juga diperlihatkan bagaimana cara menggunakan aplikasi tersebut. Pengguna cukup membuka Simojjang melalui perangkat digital, kemudian dapat mengakses menu “Lapor Kerusakan”.


Data yang dibutuhkan pun diarahkan secara sederhana, mulai dari identitas pelapor, nomor telepon, kecamatan, desa atau kelurahan, hingga nama ruas jalan.


Yang tidak kalah penting, masyarakat dapat mengunggah foto kondisi kerusakan.


Dengan demikian, laporan tidak berhenti pada kalimat “jalan ini rusak”, tetapi dapat dilengkapi dengan lokasi dan dokumentasi visual yang membantu memberikan gambaran kondisi sebenarnya di lapangan.

“Prinsipnya kami ingin monitoring jalan menjadi lebih mudah, cepat dan terukur. Dengan Simojjang, masyarakat bisa ikut menyampaikan informasi ketika menemukan kerusakan jalan. Jadi masyarakat bukan hanya pengguna jalan, tetapi juga bisa menjadi bagian dari pengawasan infrastruktur,” kata Kepala Dinas PUPR Kabupaten Nganjuk, Onny Supriyono, Kamis (20/8/2026).


Menurut Onny, keberadaan masyarakat justru menjadi kekuatan penting dalam sistem monitoring tersebut.


Sebab, pemerintah memiliki petugas yang melakukan pemantauan, tetapi masyarakat berada di jalan setiap hari. Mereka melintasi jalan menuju sekolah, tempat kerja, pasar, sawah, fasilitas kesehatan, maupun pusat-pusat aktivitas ekonomi.


Artinya, semakin banyak mata yang ikut mengawasi, semakin banyak pula informasi yang dapat diterima pemerintah.

“Kalau ada jalan yang rusak dan masyarakat melihatnya, silakan dilaporkan melalui Simojjang. Laporan tersebut menjadi informasi awal bagi kami untuk kemudian dilakukan pemantauan dan verifikasi. Harapannya, penanganan bisa semakin tepat sasaran dan sesuai dengan skala prioritas,” ujar Onny.


Konsep tersebut sekaligus mengubah pola hubungan antara masyarakat dan pemerintah.


Masyarakat tidak lagi hanya menjadi penerima layanan, tetapi diberi ruang untuk berpartisipasi dalam memperbaiki layanan publik.


Satu laporan mungkin terlihat kecil. Namun jika dikumpulkan dari berbagai wilayah, laporan tersebut dapat menjadi kumpulan data yang sangat berharga bagi pemerintah dalam membaca kondisi infrastruktur secara lebih menyeluruh.


Dalam sistem Simojjang, pemetaan jaringan jalan juga dapat dilakukan berdasarkan wilayah kecamatan. Hal itu memungkinkan pemerintah memiliki gambaran mengenai sebaran kondisi jalan dan titik-titik yang membutuhkan perhatian.


Bagi masyarakat, penggunaan aplikasi tersebut juga tidak membutuhkan proses yang rumit.


Bahkan, dalam materi sosialisasinya ditunjukkan bahwa masyarakat dapat mengakses informasi Simojjang melalui Google dan kemudian menggunakan sistem tersebut untuk menyampaikan laporan.


Langkahnya sederhana: temukan kerusakan, dokumentasikan, tentukan lokasi dan ruas jalan, lalu kirimkan laporan.


Sederhana bagi warga, tetapi bisa menjadi informasi penting bagi pemerintah.

“Teknologi ini kami manfaatkan untuk mendekatkan pelayanan kepada masyarakat. Kami ingin sistem monitoring jalan tidak berhenti pada data yang ada di kantor, tetapi juga mendapatkan informasi nyata dari kondisi di lapangan,” tutur Onny.


Lebih dari sekadar aplikasi pengaduan, Simojjang menjadi gambaran bagaimana teknologi dapat digunakan untuk memperkuat pelayanan publik.


Jalan yang sebelumnya hanya dilihat sebagai hamparan aspal, kini dapat dipetakan, dipantau, dilaporkan, dan dievaluasi dengan dukungan sistem digital.


Pada akhirnya, tujuan inovasi ini bukan sekadar membuat aplikasi.


Tujuan utamanya adalah memastikan jalan yang digunakan masyarakat setiap hari mendapatkan perhatian yang semestinya. Karena jalan yang baik bukan hanya soal kelancaran kendaraan.


Di balik jalan yang mulus, ada anak sekolah yang dapat berangkat dengan lebih aman, petani yang lebih mudah membawa hasil panen, pedagang yang lebih lancar mengangkut barang, serta masyarakat yang dapat menjalankan aktivitas tanpa harus terus-menerus menghindari lubang.


Dan semua itu dapat dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana. Sebuah telepon pintar. Sebuah foto. Sebuah laporan. Kemudian, sebuah tindakan.


Melalui Simojjang, Dinas PUPR Kabupaten Nganjuk mencoba membangun pola baru, dimana pemerintah memantau, masyarakat ikut mengawasi, dan teknologi menjadi jembatan di antara keduanya.


Dengan cara itu, menjaga jalan bukan lagi pekerjaan yang hanya dilakukan dari balik meja pemerintahan.


Warga pun bisa ikut ambil bagian. Satu laporan dari masyarakat mungkin tidak langsung memperbaiki sebuah jalan. Tetapi satu laporan bisa menjadi awal bagi pemerintah untuk mengetahui, memeriksa, menentukan prioritas, dan pada akhirnya melakukan penanganan.


Dari genggaman tangan, pengawasan jalan Nganjuk bergerak menjadi lebih modern, responsif, dan melibatkan masyarakat.



(AWA)