Kisah Heri Purnomo: Melawan Ego dan Membangun Kolaborasi -->

Javatimes

Kisah Heri Purnomo: Melawan Ego dan Membangun Kolaborasi

javatimesonline
09 April 2026

JOMBANG, JAVATIMES — Riuh percikan air dari kolam-kolam budidaya itu terdengar seperti denyut kehidupan. Setiap hari, sekitar empat ton ikan dipanen dari sistem yang tak hanya dibangun dengan teknologi, tetapi juga dengan filosofi yang jarang dimiliki pelaku usaha pada umumnya: kebersamaan.


Di balik geliat produksi tersebut, berdiri sosok Heri Purnomo, figur sentral di balik Pekantara, yang baru saja dinobatkan sebagai Inisiator Sinergi dalam PWI Jombang Award 2026. Namun, kisahnya bukan sekadar tentang angka produksi atau penghargaan. Ini adalah cerita tentang kegagalan, kesadaran, dan keberanian untuk mengubah cara berpikir.


Kegagalan yang Mengubah Arah

Bagi sebagian orang, kegagalan adalah akhir dari perjalanan. Namun bagi Heri, kegagalan justru menjadi titik balik.


Ia mengingat masa ketika dirinya kehilangan hampir segalanya. Bukan karena kurang kerja keras, melainkan karena memilih berjalan sendirian. Dalam keterpurukan itu, ia menemukan satu hal yang tak bisa dirampas: pengalaman.

“Di titik terendah, saya sadar bahwa saya gagal bukan karena tidak mampu, tetapi karena saya menanggung semuanya sendiri,” ungkapnya.


Dari sana, lahir sebuah kesadaran baru bahwa reruntuhan bukan untuk ditinggalkan, melainkan untuk dijadikan fondasi. Fondasi bagi sistem yang lebih besar, yang mampu menampung lebih banyak orang untuk tumbuh bersama.


Kesendirian, Musuh yang Tak Terlihat

Dalam pandangannya, ancaman terbesar dalam dunia usaha bukanlah modal atau pasar, melainkan kesendirian.


Menurut Heri, modal dapat dicari, ilmu dapat dipelajari, tetapi keterasingan dalam berpikir dan bertindak justru membatasi akses terhadap perubahan.

“Kalau kita berjalan sendiri, informasi terbatas dan beban terasa jauh lebih berat. Tapi ketika bersama, solusi bisa ditemukan lebih cepat,” jelasnya.


Filosofi ini menjadi dasar dalam membangun Pekantara. Ketika harga pakan melonjak atau tantangan lain muncul, solusi tidak lagi dicari secara individu, melainkan secara kolektif.


Dari 6 Kolam ke 4 Ton Harian

Perjalanan Pekantara dimulai dari skala kecil, yakni enam kolam yang dikelola secara otodidak. Kini, angka produksi telah melesat hingga empat ton per hari.


Namun, Heri menegaskan bahwa capaian tersebut bukan hasil kerja individu.

“Ini bukan soal saya, tapi soal kepercayaan dari banyak orang,” katanya.


Ia menyebut konsep demokratisasi informasi sebagai kunci. Setiap inovasi, sekecil apa pun, dibagikan kepada seluruh anggota ekosistem. Tidak ada ruang untuk ego sektoral.


Dampaknya nyata, kualitas meningkat secara merata, akses pasar semakin luas, dan posisi tawar menjadi lebih kuat.


Lebih dari Sekadar Penghargaan

Penghargaan yang diterimanya bukan dianggap sebagai pencapaian pribadi, melainkan simbol keberhasilan sebuah sistem.

“Ini bukan kemenangan saya. Ini bukti bahwa kolaborasi itu bukan teori, tapi bisa berjalan di lapangan,” tegasnya.


Ia juga menyampaikan pentingnya menghadirkan ruang bagi semua pihak dalam sebuah keberhasilan.

“Di puncak itu tidak boleh hanya ada satu kursi,” ujarnya.


Pesan untuk Generasi Muda

Di akhir perbincangan, Heri menyampaikan pesan yang sederhana namun mengena bagi para pengusaha muda.


Ia mengingatkan bahwa kegagalan bukanlah akhir, melainkan sinyal untuk berhenti sejenak dan melihat arah.

“Kalau hari ini gagal, mungkin itu cara untuk mengingatkan bahwa kita tidak harus berjalan sendiri,” katanya.


Ia pun menutup dengan kalimat yang menjadi refleksi sekaligus manifesto:

“Jangan jadi menara gading yang berdiri sendirian, tapi jadilah jembatan yang menghubungkan banyak harapan,” pungkas Heri Purnomo.


Catatan Redaksi

Kisah Heri Purnomo menunjukkan bahwa di tengah kompetisi yang kian ketat, kolaborasi justru menjadi kunci keberlanjutan. Dari kolam-kolam air tawar di Jombang, lahir sebuah model ekonomi yang tidak hanya menghasilkan komoditas, tetapi juga membangun martabat dan kesejahteraan bersama.







(Gading)