![]() |
| Presiden Prabowo saat menyapa warga di sekitaran makam Marsinah |
NGANJUK, JAVATIMES — Setelah meresmikan Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah di Desa Nglundo, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk, suasana belum sepenuhnya usai. Di tengah pengawalan ketat dan antusiasme warga yang masih memadati area museum, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto justru memilih melanjutkan langkahnya ke tempat yang sederhana dan penuh keheningan, yakni makam Marsinah.
Lokasinya tak jauh dari museum yang baru saja diresmikan. Jalan desa yang dilalui Presiden dipenuhi warga yang berdiri di pinggir jalan. Sebagian mengangkat telepon genggam, sebagian lain hanya memandang dengan rasa penasaran dan haru.
Di lokasi pemakaman, suasana berubah lebih tenang. Tidak ada pidato panjang, tidak ada seremoni besar. Hanya langkah perlahan Presiden Prabowo bersama sejumlah pejabat negara menuju pusara perempuan buruh yang namanya kini menjadi bagian penting sejarah Indonesia.
Prabowo tampak didampingi Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Andi Gani Nena Wea, Kapolri Listyo Sigit Prabowo, Ketua MPR RI Ahmad Muzani, serta sejumlah menteri Kabinet Merah Putih.
Sesampainya di makam, Presiden Prabowo menundukkan kepala sejenak sebelum menaburkan bunga di atas pusara Marsinah. Momen itu berlangsung sederhana, namun sarat makna. Beberapa warga yang menyaksikan dari kejauhan tampak ikut hening, seolah ikut larut dalam penghormatan terhadap sosok buruh perempuan yang kisah perjuangannya terus dikenang hingga hari ini.
Tak lama setelah ziarah, Prabowo juga menyempatkan diri berbincang dengan sejumlah petani yang berada di sekitar area makam. Percakapan berlangsung santai di bawah rindangnya pepohonan desa. Presiden tampak mendengarkan cerita para petani tentang kondisi pertanian, hasil panen, hingga kehidupan masyarakat desa.
Bagi warga sekitar, kedatangan Presiden ke makam Marsinah menjadi momen yang tak biasa. Sebuah desa yang selama ini dikenal tenang, mendadak menjadi pusat perhatian nasional karena sejarah perjuangan seorang perempuan buruh dari tanah Nganjuk.
Kunjungan itu sekaligus menghadirkan penghormatan yang tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga emosional. Setelah meresmikan museum sebagai ruang untuk mengenang perjuangan Marsinah, Presiden Prabowo datang langsung ke pusara tempat perempuan itu dimakamkan.
Di tengah sunyinya makam Desa Nglundo, nama Marsinah kembali disebut dan dikenang. Dari Nganjuk, kisah perjuangan itu terus hidup, melintasi generasi, dan menjadi pengingat bahwa suara rakyat kecil dapat meninggalkan jejak besar bagi bangsa.
(AWA)

Komentar