KEDIRI , JAVATIMES — Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) di Kabupaten Kediri memunculkan persoalan baru di tengah upaya pemerintah mendorong evaluasi berbasis kompetensi. Status TKA yang tidak wajib membuat partisipasi siswa belum sepenuhnya optimal.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri, Moh Muhsin, mengakui, bahwa secara teknis pelaksanaan TKA berjalan lancar pada hari pertama. Infrastruktur pendukung seperti listrik dan jaringan internet tidak mengalami kendala berarti.
Namun, di balik kelancaran tersebut, muncul tantangan dalam memastikan keterlibatan seluruh siswa. Sebab, berbeda dengan ujian nasional pada masa lalu, TKA tidak menjadi penentu kelulusan.
“Hasil TKA ini tidak menentukan kelulusan. Kelulusan tetap menjadi kewenangan sekolah,” kata Muhsin.
Kondisi ini berdampak pada persepsi sebagian siswa dan orang tua yang menganggap TKA tidak terlalu penting.
Padahal, menurut Muhsin, data dari TKA sangat dibutuhkan untuk memetakan kemampuan akademik siswa sebagai dasar perbaikan kualitas pendidikan.
Selain itu, hasil TKA juga berpotensi digunakan sebagai salah satu pertimbangan dalam proses seleksi masuk ke jenjang pendidikan berikutnya.
Fakta di lapangan menunjukkan tidak semua siswa mengikuti TKA. Di SMP Negeri 3 Wates, misalnya, terdapat sejumlah siswa yang memilih tidak ikut ujian.
Kepala SMP Negeri 3 Wates, Widyanti Nugraheni, mengatakan, pihak sekolah telah berupaya mendorong partisipasi siswa melalui pendekatan kepada orang tua.
“Kami sudah melakukan persuasi dan memberikan motivasi. Tapi karena tidak wajib, kami tidak bisa memaksa,” ujarnya.
Sebagian siswa yang tidak mengikuti TKA diketahui memiliki rencana melanjutkan pendidikan ke jalur nonformal seperti pondok pesantren, sehingga tidak melihat urgensi mengikuti tes tersebut.
Di sisi lain, pelaksanaan TKA juga menandai perubahan pendekatan evaluasi pendidikan. Jika sebelumnya siswa terbiasa dengan soal berbasis hafalan, kini mereka dihadapkan pada soal literasi dan numerasi dengan teks panjang.
Perubahan ini menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi siswa yang belum terbiasa membaca secara mendalam.
“Bukan soal yang sulit, tapi karena bacaannya panjang, itu yang jadi tantangan,” kata Widyanti.
Pelaksanaan TKA di Kabupaten Kediri dijadwalkan berlangsung hingga 16 April 2026 dengan sistem tiga sesi per hari. Sekolah diberikan keleluasaan mengatur jadwal sesuai jumlah siswa dan ketersediaan perangkat.
Situasi ini memperlihatkan bahwa selain persoalan teknis, keberhasilan TKA juga sangat bergantung pada kesadaran dan partisipasi siswa serta orang tua—sesuatu yang kini justru menjadi pekerjaan rumah baru bagi dunia pendidikan.
( Rud )

Komentar