![]() |
| Rehabilitasi SDN 2 Prayungan Kecamatan Lengkong |
NGANJUK, JAVATIMES – Aktivitas pembangunan mulai mengubah wajah SDN 2 Prayungan, Kecamatan Lengkong, Kabupaten Nganjuk. Di tengah rutinitas pendidikan yang terus berjalan, sejumlah bagian sekolah kini memasuki tahapan rehabilitasi.
Ruang kelas, fasilitas UKS, hingga sarana sanitasi menjadi bagian dari pekerjaan yang tengah dikerjakan. Perlahan, bangunan sekolah yang selama ini menjadi ruang belajar dan tumbuh bagi para siswa itu mulai dipersiapkan menuju kondisi yang lebih layak dan nyaman.
Perubahan tersebut merupakan bagian dari Bantuan Pemerintah Program Revitalisasi Satuan Pendidikan yang digulirkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melalui APBN Tahun Anggaran 2026.
SDN 2 Prayungan menjadi salah satu penerima program tersebut dengan nilai bantuan mencapai Rp958.070.632.
Program itu tidak berhenti pada satu bagian bangunan. Enam ruang kelas, mulai kelas 1 hingga kelas 6, menjadi sasaran rehabilitasi. Selain itu, ruang UKS juga direhabilitasi, disusul dua MCK siswa dan satu MCK guru.
Penataan lingkungan sekolah turut menjadi perhatian melalui pembangunan pagar.
Dengan cakupan pekerjaan tersebut, revitalisasi diharapkan tidak hanya memperbaiki tampilan fisik sekolah, tetapi juga mendukung terciptanya lingkungan pendidikan yang lebih aman, sehat, dan nyaman bagi siswa maupun tenaga pendidik.
Hingga Senin (28/9/2026), progres pekerjaan telah mencapai sekitar 25 hingga 30 persen.
Ketua Panitia Pembangunan Satuan Pendidikan (P2SP) SDN 2 Prayungan, Dicky A.P., yang memiliki latar belakang pendidikan sarjana teknik, mengatakan proses pekerjaan terus dilakukan sesuai tahapan yang telah direncanakan.
“Progres pekerjaan sampai Senin (28/9/2026) sudah sekitar 25 sampai 30 persen. Kami terus mengawal setiap tahapan agar pekerjaan berjalan sesuai rencana dan hasilnya dapat memberikan manfaat bagi sekolah,” ujar Dicky.
Menurutnya, revitalisasi yang dilakukan mencakup sejumlah fasilitas penting yang bersentuhan langsung dengan aktivitas siswa sehari-hari.
“Yang direhabilitasi meliputi ruang kelas 1 sampai 6, ruang UKS, dua MCK siswa dan satu MCK guru. Selain itu juga ada pembangunan pagar sekolah,” jelasnya.
Bagi Dicky, pekerjaan pembangunan satuan pendidikan bukan hanya berbicara mengenai penyelesaian fisik bangunan. Setiap bagian yang dikerjakan harus memiliki manfaat nyata bagi aktivitas pendidikan.
Terlebih, ruang kelas merupakan tempat utama siswa menjalani proses pembelajaran. Begitu pula UKS dan fasilitas sanitasi yang menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan sekolah yang sehat dan mendukung kenyamanan peserta didik.
Karena itu, pelaksanaan revitalisasi menjadi momentum untuk menata kembali sejumlah fasilitas sekolah agar dapat digunakan secara lebih baik dalam menunjang kegiatan belajar mengajar.
Di sisi lain, program tersebut juga membawa manfaat bagi masyarakat sekitar.
Pelaksanaan pekerjaan dilakukan secara swakelola dengan melibatkan tenaga kerja dari masyarakat setempat. Dengan demikian, pembangunan fasilitas pendidikan tidak hanya menghadirkan perubahan pada lingkungan sekolah, tetapi juga membuka ruang keterlibatan warga dalam proses pembangunan.
“Tenaga kerja kami melibatkan masyarakat setempat. Jadi selain sekolah mendapatkan fasilitas yang lebih baik, masyarakat sekitar juga ikut terlibat dalam proses pengerjaannya,” ungkap Dicky.
Aspek keselamatan tenaga kerja pun menjadi perhatian dalam pelaksanaan pekerjaan. Seluruh pekerja yang terlibat telah mendapatkan perlindungan melalui BPJS Ketenagakerjaan.
Langkah tersebut menjadi bagian penting dalam memastikan pekerjaan pembangunan berlangsung tidak hanya dengan memperhatikan hasil akhir bangunan, tetapi juga perlindungan bagi orang-orang yang berada di balik proses pengerjaannya.
Sementara itu, berdasarkan ketentuan pelaksanaan program, pekerjaan revitalisasi ditargetkan selesai paling lambat 31 Desember 2026.
Bagi SDN 2 Prayungan, revitalisasi ini pada akhirnya bukan sekadar tentang dinding yang diperbaiki, ruang yang direhabilitasi, atau pagar yang dibangun.
Ada harapan yang jauh lebih panjang di balik pembangunan tersebut. Yakni menghadirkan sekolah yang lebih nyaman bagi siswa untuk belajar, lebih mendukung guru dalam menjalankan tugas pendidikan, sekaligus menciptakan lingkungan yang semakin layak bagi tumbuh kembang generasi penerus.
Sebab, ketika sebuah ruang kelas diperbaiki, yang sedang dibangun sesungguhnya bukan hanya sebuah bangunan. Di dalamnya, ada ruang bagi anak-anak untuk belajar, bermimpi, dan menyiapkan masa depan.
(Tim)

Komentar