JOMBANG, JAVATIMES – Tudingan pedas Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Muhaimin Iskandar alias Cak Imin, yang melempar kambing hitam atas dinamika kepemimpinan Nahdlatul Ulama (NU) kepada keberadaan alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), berbuntut panjang. Menjelang Muktamar NU ke-35 di Jombang, pernyataan bernada sektarian tersebut dihantam gelombang kritik tajam dari berbagai pihak.
Serangan Cak Imin yang menyasar langsung Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) seorang alumnus HMI Universitas Gadjah Mada (UGM) dinilai bukan sekadar miskin etika politik, melainkan cermin dangkalnya kapasitas intelektual.
Kritik keras salah satunya datang dari Syarahuddin, S.H., anggota Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) sekaligus Ketua Forum Komunikasi Advokat Jombang. Pria yang akrab disapa Bang Reza ini menembak balik narasi Cak Imin sebagai bentuk ilusi politik yang cacat sejak dalam pikiran.
"Pernyataan Cak Imin yang menyalahkan kepemimpinan NU tercemar akibat ada kimia biopolitik HMI di dalam diri Gus Yahya adalah nalar yang sepenuhnya mengandung cacat historis dan distorsi waham modernisasi keislaman," tegas Direktur Firma Hukum SSA Al-Wahid tersebut.
Distorsi Sejarah dan Bumerang Ironi Sang Keponakan
Upaya Cak Imin mengesampingkan peran alumni HMI dalam diskursus keislaman dan kebangsaan dinilai sebagai bentuk pengerdilan sejarah. Tradisi pemikiran NU dan HMI telah lama berinteraksi secara produktif dalam mengawal Indonesia. Menyederhanakan tata kelola organisasi sebesar PBNU menjadi sekadar benturan ego antar-organisasi ekstra-kampus (PMII vs HMI) adalah penyederhanaan masalah yang sangat infantil.
Di sisi lain, narasi romantisasi PMII yang diusung Cak Imin justru menjadi bumerang politik yang menelanjangi rekam jejaknya sendiri. Publik tidak lupa bahwa Cak Imin ditempa di lingkungan PMII di bawah bimbingan langsung sang paman, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Namun, sejarah kelam mencatat bagaimana trajektori politik kekuasaan berujung pada disingkirkannya Gus Dur sang mentor utama sekaligus pendiri PKB oleh keponakannya sendiri.
"Melirik sejenak rekam jejak Cak Imin, sejauh ini tak punya pengalaman yang cukup dan benar. Ia sepenuhnya ada di PMII dan di bawah bimbingan pamannya, Gus Dur, yang kemudian setelah mendirikan PKB, dicongkelnya sendiri," sindir Bang Reza tajam.
Ia juga mempertanyakan kontribusi nyata gagasan intelektual Cak Imin selama puluhan tahun mendekam di lingkar kekuasaan.
"Jika ia hendak ditokohkan dalam garis sejarah ormas Islam garda depan, kemampuan politik intelektualnya harus dipertanyakan selama lebih dari tiga dasawarsa sangat dekat dengan kekuasaan dan kepemimpinan. Percik sejarah politik intelektual NU dan HMI mustahil bisa disandingkan dengannya."
Panik Politik dan Gertak Sambal Menjelang Muktamar
Pergeseran relasi antara PBNU dan PKB di bawah kepemimpinan Gus Yahya yang secara konsisten mengembalikan NU ke khittah independen dan lepas dari bayang-bayang PKB, tampaknya memicu frustrasi membuncah di internal partai. Narasi "ancaman alumni HMI" diduga kuat sengaja ditiupkan sebagai instrumen pengalihan isu dan pembelahan sentimen demi mengamankan basis dukungan menjelang Muktamar.
Bang Reza menilai pidato kontroversial tersebut tak lebih dari keputusasaan politik seorang politisi yang cemas kehilangan pengaruh di ceruk suara nahdliyin.
"Pernyataan Cak Imin itu sekadar blur pidato yang kehilangan kepekaan, menunjukkan kapasitas politik intelektualnya yang mungkin saja tak ingin keluar dari kemayaan kekuasaan belaka. Atau, timbang tak ada suara signifikan di lahan muktamar dan muktamirin yang tentu itu tambang suara PKB kapan pun, bersuaralah meski cuma dari mimbar pidato," pungkas Bang Reza.
Memetakan persaingan gagasan di tubuh PBNU melalui sentimen sempit PMII-HMI bukan sekadar kemunduran cara berpikir. Ini adalah benteng defensif yang dibangun Cak Imin untuk menutupi kecanggungan rekam jejak politiknya di hadapan warga nahdliyin.
(Gading)

Komentar