![]() |
| Bupati Nganjuk bersama ratusan petani saat berfoto bersama |
NGANJUK, DJAVATIMES -- Pada hari Kamis (31/8/2023) sekitar pukul 13.00 WIB, cuaca di Kabupaten Nganjuk sedang panas-panasnya. Terlebih suhunya mencapai 38 derajat celcius.
Namun demikian, kondisi itu tidak menghalangi semangat ratusan orang untuk berbondong-bondong menggeruduk pendopo K.R.T Sosrokoesoemo, tempat Bupati Nganjuk bertugas.
Uniknya, kedatangan ratusan orang yang didominasi petani dan kelompok tani ini tidak mendapat penjagaan ketat dari pihak keamanan. Terlebih mereka juga tidak membawa atribut selayaknya sedang berdemo. Mereka justru kompak berpenampilan dan berpakaian rapi.
Usut punya usut, rupanya mereka sedang memenuhi undangan Bupati Nganjuk, Marhaen Djumadi atau yang lebih akrab disapa Kang Marhaen.
Tujuannya yakni untuk menyerap aspirasi atau keluhan petani dan sekaligus dicarikan solusinya. Acara tersebut bertajuk 'Madul Kang Marhaen'.
Dalam acara tersebut, petani menceritakan persoalan yang dihadapinya sejak musim tanam hingga musim panen.
Seperti halnya yang disampaikan Toha dari Desa Mabung, Kecamatan Baron. Pria paruh baya itu mengeluhkan terbatasnya pupuk subsidi di wilayah tempat ia bertani.
Kami petani sangat berharap kepada Pemerintah Kabupaten Nganjuk bisa memberikan solusi buat para petani. Apalagi keterbatasan pupuk subsidi ini mencapai 50 persen, ungkap Toha petani padi.
Keluhan lainnya juga disampaikan Akat, ketua Asosiasi Bawang Merah Indonesia (ABMI) Kabupaten Nganjuk. Dikatakan Akat, saat ini Kabupaten Nganjuk memiliki stok bawang merah yang melimpah, sehingga menyebabkan anjloknya harga.
Menanggapi persoalan dari petani, Bupati Nganjuk Kang Marhaen menjelaskan bahwa permasalahan minimnya pupuk subsidi ini bisa diatasi dengan inovasi pupuk cair maupun padat yang dibuat oleh orang-orang Nganjuk.
Saat ini sudah banyak ditemui pupuk yang diproduksi oleh orang-orang Nganjuk yang hebat. Kami harap dengan adanya inovasi ini, petani kita tidak lagi ketergantungan terhadap pupuk bersubsidi, tandasnya.
Sementara itu, menyoal anjloknya harga bawang merah di Kabupaten Nganjuk, Kang Marhaen beralasan karena disebabkan panen raya.
Panen bawang merah (di Kabupaten Nganjuk) sejak tanggal 10 hingga 25 Agustus ini tercatat ada sekitar 5.000 hingga 6.000 hektar, alhasil harga jadi turun drastis, tutur Kang Marhaen.
Untuk itu, Kang Marhaen mengusulkan agar ke depan para petani di berbagai kecamatan dapat menyusun pola tanam sehingga musim panen di Kabupaten Nganjuk tidak bersamaan.
Kemudian juga dengan kelompok tani, ini perlu ada perubahan. Jika sebelumnya penentuan kelompok tani ditentukan berdasarkan domisili, maka selanjutnya harus diubah berdasarkan lokasi dimana lahan itu berada. Sehingga pola penanaman ini bisa berhasil dan harga jual bisa menguntungkan petani, pungkas Kang Marhaen.
(AWA)

Komentar