Didesak Warga Soal Pelayanan dan Domisili, Kasun Sembung Siap Mundur Jika Gagal Penuhi Tuntutan -->

Javatimes

Didesak Warga Soal Pelayanan dan Domisili, Kasun Sembung Siap Mundur Jika Gagal Penuhi Tuntutan

javatimesonline
13 Mei 2026

Puluhan warga Dusun Sembung, Desa Margopatut, Kecamatan Baron, mendatangi kantor desa setempat, Rabu (13/5/2026)

NGANJUK, JAVATIMES — Puluhan warga Dusun Sembung, Desa Margopatut, Kecamatan Baron, mendatangi kantor desa setempat, Rabu (13/5/2026). Kedatangan mereka bukan sekadar menyampaikan keluhan biasa, melainkan membawa setumpuk keresahan yang selama ini dinilai mengendap tanpa penyelesaian jelas.


Dengan membawa surat berisi sejumlah poin tuntutan, warga secara terbuka menyuarakan persoalan pelayanan masyarakat, buruknya fasilitas umum, hingga mempertanyakan komitmen pengabdian Kepala Dusun (Kasun) Sembung terhadap warganya sendiri.


Suasana audiensi berlangsung serius. Satu per satu warga menyampaikan keluhan yang disebut sudah lama dirasakan masyarakat Dusun Sembung. Persoalan yang dianggap paling mendasar ialah tuntutan agar Kasun Sembung benar-benar berdomisili di wilayah dusun yang dipimpinnya.


Bagi warga, keberadaan seorang kepala dusun di tengah masyarakat bukan sekadar formalitas administratif, melainkan bentuk nyata tanggung jawab pelayanan. Ketidakhadiran pemangku wilayah dinilai membuat koordinasi lamban, komunikasi tidak maksimal, hingga berbagai persoalan masyarakat kerap terlambat ditangani.

“Kami ingin pelayanan benar-benar maksimal. Kalau perangkat yang bertanggung jawab tinggal di lingkungan warga, tentu masyarakat lebih mudah berkoordinasi dan menyampaikan kebutuhan,” ujar salah satu warga dalam forum audiensi.


Tak berhenti pada persoalan domisili, warga juga menyoroti lemahnya komitmen pelayanan kepada masyarakat. Mereka berharap jabatan kepala dusun tidak hanya dipahami sebagai posisi administratif, namun diwujudkan melalui keterlibatan langsung terhadap persoalan warga sehari-hari.


Kekecewaan warga semakin menguat karena sejumlah persoalan dinilai terus berulang tanpa solusi nyata. Salah satunya keterlambatan pembagian pipil pajak yang disebut kerap membuat masyarakat kebingungan saat hendak melakukan pembayaran pajak tepat waktu.


Menurut warga, keterlambatan distribusi pipil pajak tidak seharusnya terus terjadi karena menyangkut kewajiban administrasi masyarakat. Mereka meminta sistem pelayanan diperbaiki agar lebih tertib, cepat, dan tidak merugikan warga.


Selain itu, kondisi infrastruktur Dusun Sembung juga menjadi sorotan tajam dalam audiensi tersebut. Jalan lingkungan yang rusak bertahun-tahun disebut belum mendapatkan perhatian serius. Kerusakan jalan dinilai mengganggu aktivitas masyarakat dan menjadi simbol lambannya penanganan kebutuhan dasar warga.


Tak kalah memprihatinkan, bangunan Polindes di Dusun Sembung juga dikeluhkan warga karena kondisinya dinilai kurang terawat dan nyaris terbengkalai. Padahal fasilitas tersebut memiliki peran penting dalam menunjang pelayanan kesehatan masyarakat, khususnya bagi ibu dan anak.


Warga berharap pemerintah desa segera mengambil langkah konkret agar fasilitas kesehatan tersebut kembali difungsikan secara maksimal dan tidak terus dibiarkan tanpa kepastian.


Di tengah derasnya tuntutan warga, Kepala Dusun Sembung, Arrin, akhirnya memberikan tanggapan secara langsung di hadapan masyarakat yang hadir. Dalam forum mediasi tersebut, Arrin menyatakan kesiapannya untuk berupaya memenuhi seluruh aspirasi dan tuntutan warga Dusun Sembung.


Pernyataan itu bahkan dituangkan secara tertulis sebagai bentuk komitmen terhadap masyarakat. Dalam surat pernyataan yang dibuat saat audiensi berlangsung, Arrin menyebut dirinya bersedia mengundurkan diri dari jabatan Kepala Dusun apabila tidak mampu memenuhi tuntutan warga.


Sikap tersebut langsung menjadi perhatian masyarakat yang memenuhi kantor Desa Margopatut. Warga berharap pernyataan tertulis itu tidak berhenti sebagai janji di atas kertas, melainkan benar-benar diwujudkan melalui perubahan nyata dalam pelayanan masyarakat.


Meski sejumlah keluhan disampaikan dengan nada tegas, suasana audiensi berlangsung relatif kondusif. Warga memilih menyampaikan aspirasi secara terbuka dengan harapan pemerintah desa segera mengambil langkah penyelesaian sebelum persoalan berkembang menjadi polemik berkepanjangan.


Kini masyarakat Dusun Sembung menunggu, apakah berbagai tuntutan yang telah disampaikan akan benar-benar ditindaklanjuti, atau justru kembali menjadi daftar keluhan lama yang terus berulang tanpa penyelesaian pasti.




(AWA)