Mojokambang di Persimpangan: Marwah Desa atau Kedok Penguasa? -->

Javatimes

Mojokambang di Persimpangan: Marwah Desa atau Kedok Penguasa?

javatimesonline
30 April 2026

JOMBANG, JAVATIMES – Di Dusun Kemendung, hilangnya seekor sapi bukan sekadar hilangnya harta benda, melainkan runtuhnya pilar rasa aman warga. 


Namun, ironi yang lebih menyakitkan muncul ketika jeritan kehilangan rakyat justru dibalas dengan sikap "kebakaran jenggot" oleh oknum perangkat desa.


Kita sedang menyaksikan sebuah drama moral di Mojokambang: Apakah jabatan desa saat ini adalah alat pelayanan rakyat, atau justru telah bermutasi menjadi tameng besi untuk menutupi borok skandal?


Menangkis Narasi "Pencemaran Nama Baik": Tabir yang Tersingkap

Awalnya, Kepala Desa Mojokambang melayangkan tuduhan ketus, mempertanyakan kredibilitas berita dan menuding penulis bergerak tanpa konfirmasi. Namun, kebohongan memiliki kaki yang pendek. Begitu komunikasi dibuka, sang Kepala Desa terhenyak oleh kenyataan pahit bahwa jurnalis telah menjalankan tugasnya dengan presisi.


Fakta membuktikan: Penulis telah mengetuk pintu konfirmasi kepada Kasun Kemendung, Aris Andayani. Namun, apa yang didapat? Bukannya jawaban yang bermartabat, melainkan balasan yang "Jauh Panggang dari Api".


Pertanyaan Wartawan: Agus (Kabarjagad) bertanya lugas apakah benar terjadi pencurian sapi di Kemendung? Dan apakah benar pelakunya memiliki ikatan kerabat dengan sang Kasun?


Jawaban Melantur Kasun: Bukannya memberikan fakta, Kasun justru menjawab dengan nada meremehkan: "Alah, masak gak apal Gading (Jurnalis) sama Mariyanto (Anggota TNI) Kalau pingin tahu monggo datang ke rumah gak apa-apa."


Pernyataan ini bukan sekadar ketidaksambungan logika, melainkan upaya pengalihan isu yang memuakkan.


Menguliti Sang "Tameng" Kekuasaan: Arogansi dan Intimidasi Murahan

Mengapa Kasun Kemendung harus "panas"? Jika tangan itu bersih dari noda, mengapa yang keluar bukan fakta teknis, melainkan pencatutan nama?


Mencoret nama jurnalis dan seorang anggota TNI seolah sebagai "provokator" adalah langkah pengecut untuk membunuh karakter para pencari kebenaran. Padahal, Polsek setempat telah mengonfirmasi bahwa tersangka pencurian telah diamankan. Lantas, apa yang sedang coba dilindungi oleh sang Kasun dengan jawaban melantur tersebut?


Ini bukan lagi soal sapi. Ini adalah skandal penyalahgunaan wewenang. Kasun Kemendung telah mempertontonkan arogansi kekuasaan yang mencoba mengangkangi hukum publik dan menghina profesi jurnalis dengan hegemoni kecil yang tak berdasar.


Kedewasaan Kepala Desa: Memilih Jalan Pulang ke Kebenaran

Di tengah gelapnya arogansi perangkatnya, kita perlu mencatat perubahan sikap Kepala Desa Mojokambang. Meski awalnya bereaksi keras, beliau menunjukkan kelasnya sebagai pemimpin dengan mau mendengarkan kebenaran yang objektif.


Setelah menyadari bahwa Kasun-lah yang gagal memberikan jawaban berbobot, Kepala Desa kini berdiri di persimpangan krusial:

Menyadari bahwa tuduhan "berita tanpa konfirmasi" hanyalah isapan jempol yang diciptakan perangkatnya sendiri.


Mediasi Manusiawi: Memilih jalan dialog daripada meneruskan narasi permusuhan yang dibangun oleh oknum di bawahnya.


Menjaga Marwah: Memahami bahwa nama baik desa bukan dirusak oleh tinta jurnalis, melainkan oleh kelakuan oknum perangkat yang tidak profesional dan antikritik.


Pernyataan Sikap: Kami Tidak Menulis dengan Tinta Ketakutan!

Kami mengapresiasi keterbukaan Kepala Desa setelah menerima penjelasan fakta. Namun, kami tegaskan sekali lagi: Tugas pers bukan untuk memoles citra agar terlihat kinclong, melainkan menyinari sudut-sudut gelap yang sengaja ditutupi oleh oknum seperti Kasun Kemendung.


Konfirmasi telah kami lakukan. Jika dijawab dengan intimidasi, pencatutan nama seorang TNI, dan ketidaksambungan logika, maka pers memiliki kewajiban suci untuk membongkarnya ke hadapan publik. Kami tidak akan mundur satu langkah pun oleh gertakan.


"Kebenaran tidak butuh tameng, ia hanya butuh diungkapkan. Mojokambang tidak butuh penguasa yang pandai bersilat lidah, rakyat butuh keadilan!"






(Gading)